Life Style

5/cate1/Life Style

Tafakkur

6/cate3/tafakkur

Motivasi

5/cate4/Motivasi

agama

4/cate5/agama

Recent post

Isnad Hal Istimewa Dalam Tradisi Pesantren

Isnad Hal Istimewa Dalam Tradisi Pesantren
[Foto:Internet]

umdah.mudimesra.com - Salah satu keistimewaan tradisi keilmuan Islam adalah sistem mata rantai periwayatan yang biasa disebut ‘Isnad’. Karena sistem inilah, konsep-konsep pokok dalam berbagai disiplin ilmu itu senantiasa terjaga keaslianya. Tradisi ini telah ada pada zaman sahabat, namun mulai menggema pada masa kodifikasi keilmuwan (`ashr at-tadwin). Untuk itu, para ulama dari berbagai cabang keilmuwan seperti Hadits, Fiqh, Qira’at, bahkan Tasawwuf berusaha untuk menguatkan keilmuanya dengan dengan menampilkan sanadnya.

Urgensi Isnad

Tidak ada yang mengingkari, bahwa Isnad merupakan sisi penting dalam agama Islam, karena dengan sistem ini seseorang tidak semena-mena mengeluarkan statemen yang berhubungan dengan agama. Sebagaimana penjelasan Ibn Mubarak yang dikutip Imam Muslim dalam muqaddimah shahihnya, ‘Isnad adalah bagian dari agama, seandainya tanpa Isnad seseorang bisa berkata sekehendak hati’. (Muslim, Shahih Muslim, 1/87)

Sufyan ats-Sauri membuat perumpamaan posisi isnad di tangan umat Islam. ‘Isnad adalah senjata orang mukmin, tanpa senjata tidak bisa berperang’ ( as-Sakhawi: Syarh Alfiah as-Suyuthi,335). Jika seseorang mempunyai mata rantai periwayatan, maka dia bisa dengan leluasa mengeluarkan statement karena bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya. Pun bagi yang tidak setuju, maka akan sulit membantahkannya.

Menurut penelitian sebagian besar pakar sejarah Islam, Islam adalah sebuah peradaban menaruh perhatian sanagat besar terhadap warisan para Nabinya. Keistimewaan ini tidak dijumpai oleh peradaban-peradaban sebelumnya, bahkan semenjak manusia itu lahir ke dunia. (Al-Qasthalany, Syarh Mawahib al-Ladduniyah, 5/454). Bisa jadi, keistimewaan ini juga tidak akan pernah dimiliki peradaban-peradaban lain yang akan terus silih berganti.

Secara hukum fiqh, Ali al-Qari memandang bahwa ber-Isnad dalam adalah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah), bahkan tergolong Fardlu kifayah. Katanya “asal isnad adalah keistimewaan dan keutamaan ummat ini. Juga sunnah yang begitu tinggi dari bagian sunnah muakkad, bahkan bisa dimasukkan sebagai fardlu kifayah, maka mencari jalur sanad adalah suatu yang perlu diperhatikan dan diharapkan”. (Ali Al-Qari, Syarh Nukhbat al-Fikr, 194)

Tradisi Hadits

Isnad dalam tradisi Ilmu Mushtalah hadits adalah wajib. Pernyataan ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, karena istilah ‘sanad’ memang lahir dari rahim disiplin ilmu ini. Bagi Imam Syafi`i, “pencari hadits tanpa isnad bagaikan pencari kayu bakar di malam hari”. (az-Zurqani, Syarh Mawahib al-Ladduniyyah, 5/453). Artinya, dia akan sulit menemukanya.

Untuk itu, gelar ‘muhaddits ‘tidak gampang diberikan kepada siapapun kecuali apabila memenuhi kriterianya. Imam Tajuddin As Subki memberikan kriterianya, dalam Mu`id An Ni’am, harus mengetahui ‘asanid’ dan kesamaran cacatnya, nama-nama perawi, (sanad) al ali dan an nazil, hafal banyak matan, mendengarkan Kutub As Sittah, Musnad Ahmad, Sunan Al Baihaqi, Mu’jam At Thabarani, dan digabungkan dengannya seribu juz dari kitab-kitab hadits. Inipun masih adalah derajat terendah. Sungguh aneh, jika ada mendapat gelar muhaddits namun tidak memenuhi syarat ini, bahkan hanya dengan otodidak.

Namun, bagaimana dengan beberapa cabang disiplin ilmu yang lain ?.Bagi Imam al-Kunawi al-Hindi, segala persoalan yang disandarkan ke dalam agama harus menggunakan sisitem Isnad. Termasuk diantaranya hal-hal yang berkenaan sejarah Nabi, hukum-hukum syarak, kisah-kisah dan cerita teladan, ataupun sejarah secara umum. Bahkan, jika tidak ditopang dengan sistem isnad, pendapat-pendapat itu tidak bisa dijadikan pijakan. Lebih-lebih setelah hilangnya kurun waktu terbaik dalam Islam (al-Kunawi, al-Ajwibah al-Fadlilah, 28).

Tradisi Sejarah dan Fiqh

Melihat pentingnya sistem ini, isnad tidak lagi monopoli ilmu ushul hadits melainkan ilmu yang lain salah satunya dalam penulisan sejarah. Para pakar sejarah banyak mengambil metode kitab hadits dalam penulisan mereka. Artinya, kisah-kisah yang dituturkan berdasarkan informasi baik lisan atau tulisan menggunakan menggunakan sanad selayaknya kitab hadits. Perbedaanya adalah, penelitian sanadnya tidak seketat dalam kitab-kitab hadits. Sebagaimana pendapat yang sudah masyhur di kalangan mayoritas muhadditsin, bahwa diperbolehkan tidak terlalu ketat menyeleksi sanad untuk urusan sejarah. Asalkan bukan riwayat paslu.

Dalam disiplin ilmu fiqh juga demikian. Para mujtahid fiqh empat madzhab mempunyai jalur sendiri dalam menguatkan keilmuan mereka. Abu Jakfar sempat bertanya kepada Abu Hanifah secara langsung perihal sanad keilmuwanya. Entah, hanya ragu atau sekedar basa-basi saja. Dengan tegas beliau menjawab “dari Hammad, dari Ibrahim An Nakhai’i, dari Umar bin Al Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas. (Zahid al-Kautasry, Husn at-Taqadly fi Sirah Abi Yusuf al-Qadly,11)

Dalam musthlah al-Hadits, istilah sanad emas (as silsilah adz dzhabaiyah) sudah diketahui secara luas. Diantaranya adalah sanad jalur Malik, dari Nafi, dari Ibn Umar. Maka, bila juga dilacak Imam Syafi`i sebagai murid dari Imam malik, dan beliau adalah guru Imam Ahmad Bin Hambal Maka sebenarnya, sanad ilmu fiqh mereka bukan lagi sanad emas, melainkan berlian.

Sedah jamak, bahwa Imam Syafi`i adalah mujtahid mutlak yang menggali hukum secara langsung dari sumber aslinya, termasuk dalam hal ini adalah gerakan shalat beserta penetapan rukun dan syarat. Secara umum, shalat yang benar adalah seperti kata Nabi ‘shalatlah sebagaimana kalian lihat aku shalat’. Maka, banyak hadits yang menyebutkan ‘kaifiyyah’ shalat tersebut, namun tetap saja ada perbedaan dari beberpa madzhab.

Nampaknya, keistimewaan imam ahli hadits ini bukan saja terletak pada pengambila hukumnya, melainakan adalah beliau memili sanad khusus shalat. Yaitu dari Muslim bin Khalid, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ibnu Az Zubair, dari Abu Bakr Ash Shiddiq, dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Untuk itu, bagi Ibrahim Bin Muhammad, tidak ada gerakah shalat yang paling baik kecuali Imam Syafi`i. (ad-Dzhaby, Siyar A’lam An Nubala’, 10/90).

Ilmu Qur`an; Qira`at

Selain ilmu fiqh, ilmu Qira`at juga menempatkan sanad di posisi paling urgen. Al-Qur`an memang sudah terkumpul dalam Mushaf Utsmani yang bisa dibaca dengan bebarapa macam Qira`at. Namun, kitab ini bukan saja terjaga dengan teks saja melainkan dengan tradisi lisan, maka sistem talaqqy (face to face) adalah wajib dalam belajar ilmu Qira`at. Hal ini berkaitan berkaitan dengan pelafalan makhraj dan ketepatan pelafalan sifat huruf.

Untuk itu, para Imam Qira`at berusaha mencari cara membaca itu dengan melakukan perjalanan sebagaimana para Muhadditsin. Dari banyaknya riwayat yang ditemukan, ada yang shahih, dlaif, hasan, mursal, dan maudlui. Untuk itulah seorang ulama senior bidang ini seperti al-Jazary menyeleksinya, membuang dan menetapkan riwayat yang mutawatir.

Kata Ibn al-Jazary, “ saya tidak meninggalkan satu huruf dari mereka yang tsiqat kecuali menyebutkanya, yang benar saya tetapkan, yang tidak jelas saya jelaskan, yang jauh saya dekatkan, yang tercecer saya tertibkan. Karena untuk mengingatkan yang shahih dari yang syadz, yang hanya sendirian, berpegang teguh untuk mengurai yang kusut, menshahihkan, mendlaifkan, men-tarjih,mendatangkan muataba`at dan syawahid….semuanya terkumpul dari pelataranbarat dan timur ( Ibn Al-Jazary, an-Nasr, 1/56)

Tradisi Tasawwuf

Dalam bidang tasawwuf, mereka juga menguatkan dzikir, wirid dan aktifitas tasawwuf yang biasa disebut dengan sanad ‘khirqah’. Tradisi ini sedikit berbeda dengan disiplin yang lain, dimana seorang guru memakaian ‘khirqah’ (selendang) kepada murid untuk mengikat hubungan (shuhbah) batin keduanya. As-Suhrawardi menjelaskan, hal ini sebagai bentuk seremonial bahwa guru akan membimbing murid, dan seorang murid memasrahkan perjalanan suluknya kepada guru pembimbing.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, sanad dalam bidang ini terbagi menjadi dua; khirqah iradah (shuhbah) dan khirqah tabarruk (tasyabbuh). Yang pertama, diperuntukkan untuk murid resmi yang telah ber-shuhbah dengan guru. Adapun yang kedua hanya mengikuti konsep-konsep suluk sang guru saja, tanpa bergaul secara langsung dan memasrahkan diri.(Suhrawardi, Awarif al-Ma`arif,1/251,255)

Sebagai contoh, Thariqah Syadzliyyah mempunyai dua sanad ini dan dengan jalan yang berbeda. Sanad ‘khirqah iradah’ berujung kepada Hasan al-Basri dari Ali Bin Abi Thalib. Sanad Khirqah tabarruk berujung kepada Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib. (Nuh Hamim, Aurad Thariqah Syadziliyyah, 6-8).

Beberapa kalangan Muhadditsin ada yang mengingkari sanad dalam tasawwuf karena Hasan al-Bashri tidak pernah berjumpa dengan Ali Bin Abi Thalib. Namun, al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi telah menjawabnya secara detail dalam Fatawi-nya bahwa mereka berdua bertemu, sehingga sanad dalam tasawwuf juga benar bila ditakar dengan ilmu musthalah hadits.

Beliau mengatakan“sekelompok Huffadz mengingkari bahwa Hasan al-Bashri mendengar dari Ali Bin Abi Thalib, begitu juga beberapa kalanga mutaakhhirin, sehinga mereka menolak khirqah. Tetapi, beberapa yang lain menetapkanya. Pendapat yang kedua inilah yang kuat menurut pendapat saya, juga dikuatkan oleh al-Hafidz al-Maqdisi dalam al-Mukhtar, kemudian diikuti oleh Ibn Hajar al-Atsqalani dalam Athraf al-Mukhtarah” . Lalu beliau menjelaska buktinya secara panjang lebar. (as-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawa, 2/102-103).[]hibbik.

Inikah Tasawuf?

Inikah Tasawuf?
[Foto:Internet]

umdah.mudimesra.com - Tasawuf adalah bagian dari perkembangan ajaran islam dari para sufi. Dalam rukun islam dan rukun iman mengenai tasawuf memang tidak terdapat secara eksplisit. Ajaran tasawuf sendiri dianggap berasal dari berbagai pengaruh ajaran agama atau filsafat lain yang akhirnya diadopsi dan disesuaikan dengan konsep islam. Untuk itu terdapat pro kontra mengenai hal tersebut. Tentu saja hal ini tidak boleh bertentangan dengan Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia.
Berikut adalah pengertian tasawuf dalam berbagai sudut pandang.
Menurut Etimologi pengertian tasawuf menurut etimologi juga pendekatan lainnya, terdapat perbedaan. Secara umum, diantara perbedaan tersebut tentu ada garis merah atau benang merah yang dapat ditarik.

Berasal dari Kata Shuffah
Tasawuf berasal dari istilah shuffah. Shuffah berarti serambi tempat duduk. Suffah berasal di serambi masjid Madinah yang disediakan untuk mereka yang belum memiliki tempat tinggal atau rumah dan dari orang-orang muhajirin yang ada di Masa Rasulullah SAW. Mereka dipanggi sebagai Ahli Suffah atau Pemilik Sufah karena di serambi masjid Madinah itulah tempat mereka.

Berasal dari Kata Shaf
Selain itu, istilah tawasuf juga berasal dari kata Shaf. Shaf memiliki arti barisan. Istilah ini dilekatkan kepada tasawuf karena mereka, para kaum sufi, memiliki iman yang kuat, jiwa dan hati yang suci, ikhlas, bersih, dan mereka senantiasa berada dalam barisan yang terdepan jika melakukan shalat berjamaah atau dalam melakukan peperangan.
Berasal dari Kata Shafa dan Shuafanah
Istilah Tasawuf juga ada yang mengatakan berasal dari kata shafa yang artinya bersih atau jernih dan kata shufanah yang memiliki arti jenis kayu yang dapat bertahan tumbuh di daerah padang pasir yang gersang.

Berasal dari Kata Shuf
Pengertian Tasawuf juga berasal dari kata Shuf yang berarti bulu domba. Pengertian ini muncul dikarenakan kaum sufi sering menggunakan pakaian yang berasal dari bulu domba kasar. Hal ini melambangkan bahwa mereka menjunjung kerendahan hati serta menghindari sikap menyombongkan diri. Selain itu juga sebagai simbol usaha untuk meninggalkan urusan-urusan yang bersifat duniawi. Orang-orang yang menggunakan pakaian domba tersebut dipanggil dengan istilah Mutashawwif dan perilakunya disebut Tasawuf.


Menurut Terminologi
Pengertian tasawuf menurut terminologi dari para ahli sufi juga terdapat varian-varian yang berbeda. Hal ini dapat dijelaskan dari berbagai pandangan sufi berikut:
Menurut Imam Junaid
Menurut seorang sufi yang berasal dari Baghdad dan bernama Imam Junaid, Tasawuf memiliki definisi sebagai mengambil sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah.
Menurut Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah seorang syekh yang berasal dari Afrika Utara. Sebagai seorang sufi ia mendefinisikan tasawuf sebagai proses praktek dan latihan diri melalui cinta yang mendalam untuk ibadah dan mengembailikan diri ke jalan Tuhan.

Sahal Al-Tustury
Sahal Al Tustury mendefinisikan tasawuf sebaai terputusnya hubungan dengan manusia dan memandang emas dan kerikil. Hal ini tentu ditunjukkan untuk terus menerus berhubungan dan membangun kecintaan mendalam pada Allah SWT.
Syeikh Ahmad Zorruq
Menurut Syeikh Ahmaz Zorruq yang berasal dari Maroko, Tasawuf adalah ilmu yang dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata untuk Allah dengan menggunakan pengetahuan yang ada tentang jalan islam. Pengetahuan ini dikhususkan pada pengetahuan fiqh dan yang memiliki kaitan untuk mempebaiki amalan dan menjaganya sesuai dengan batasan syariah islam. Hal ini ditujukan agar kebikjasanaan menjadi hal yang nyata.
Secara Umum
Dari pengertian tasawuf secara etimologi dan terminologi dapat diambil kesimpulan bahwa Tasawuf adalah pelatihan dengan kesungguhan untuk dapat membersihkan, memperdalam, mensucikan jiwa atau rohani manusia. Hal ini dilakukan untuk melakukan pendekatan atau taqarub kepada Allah dan dengannya segala hidup dan fokus yang dilakukan hanya untuk Allah semata.
Untuk itu, tasawuf tentu berkaitan dengan pembinaan akhlak, pembangunan rohani, sikap sederhana dalam hidup, dan menjauhi hal-hal dunia yang dapat melenakan. Tentu hal ini bisa membantu manusia dalam mencapai tujuannya dalam hidup. Untuk itu, praktik tasawuf ini dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin membangun akhlak yang baik, sikap terpuji, kesucian jiwa, dan kembalinya pada Illahi dalam kondisi yang suci.

https://umdah.mudimesra.com/2019/09/ketika-ulama-tasawuf-berjumpa.html

Secara umum, tentu ajaran tasawuf jika dikembangkan tidak boleh bertentangan dan juga bersebrangan dengan ajaran yang berasal dari Wahyu Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Sebagai bentuk kecintaan manusia kepada Rasulullah tentunya juga harus tetap melaksanakan ibadah sebagaimana Rasul ajarkan.Landasan Tasawuf dalam Al-Quran
Mengenai tasawuf, beberapa sufi menyandarkan pengertian dan dasar-dasarnya kepada ayat-ayat Al-Quran. Ajaran tasawuf diidentikkan dengan ajaran islam walaupun agama lain juga memiliki hal yang serupa dengan tasawuf. Berikut adalah ayat-auat Al-Quran yang berkenaan dengan dasar tasawuf menurut para sufi:
QS Al Baqarah : 115
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
QS Al Baqarah : 186
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
QS Qof : 16
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
QS Al Kahfi : 65
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Dalam pelaksanaan praktik tasawuf, tentunya manusia jangan sampai lupa dan meninggalkan juga bagaimana aktivitas kehidupan berdasarkan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama islam.
Melaksanakan praktik tasawuf bukan berarti sama dengan meninggalkan juga usaha untuk dapat Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Dunia Menurut Islam memang bukanlah segala-galanya, dan tidak boleh terlena dengannya. Namun Allah pun juga menyuruh manusia untuk dapat mengoptimalkan kehidupan dunia agar dapat meraih Sukses Menurut Islam.[]hibbik.


Ingin Mendapat Pendamping Yang Baik?

Jodoh Yang Baik
[Foto:Internet]

  umdah.mudimesra.com -  Semua kaum hawa pasti ingin melaksanakan sunnah Rasulullah SAW, lebih-lebih lagi kepada wanita yang  merasa umurnya sudah pantas untuk melangsungkan penikahan.
Sebenarnya wajar bagi seorang wanita merasa minder apabila melihat teman-teman sebaya mereka
yang sudah mengikuti sunnsh Rasulullah SAW, karena mereka juga ingin merasakan kebahagiaan bersama pendampignya kelak.

  Seperti yang sudah kita ketahui, dengan menikah para wanita bisa memulai kehidupan baru,merasakan bagaimana caranya mempunyai tanggung jawab dan menjadi seorang ibu bagi anak kita kelak nanti.
  Dizaman yang serba canggih sekarang, banyak sekali kita perdapatka wanita-wanita yang menikah di usia muda. Sebenarnya menikah di usia muda ada baik dan ada buruknya, baiknya adalh kita bisa terhindar dari segala dari segala fitnah dan maksiat, dan buruknya yaitu kita merasa kalau kita belum bisa bertanggung jawab penuh dalam sebuah keluarga .

https://umdah.mudimesra.com/2015/02/memilih-jodoh.html

Dan untuk kalian para wanita-wanita carier,kalian jangan pernah takut apabila terlambat melakukan sunah Rasulullah SAW karena jodoh itu pasti ada, dan sudah ditentukan oleh ALLAH SWT kalaupun tidak mendapatkannya di dunia, may be kita akan mendapatkannya di akhirat nanti, dan kuncinya kita harus BERSABAR.

Buat kalian para wanita-wanita sholihah yang mungkin akan segera mengikuti sunnah Rasul, ada beberapa tips mendapatka jodoh yang baik:
1.Pastikan kita menikah dengan niat yang benar
   Sesungguhnya amalan itu menurut niat seseorng ,dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuatu menurutapa yang diniatnya jadi, jika kita mendapat jodoh yang baik, berarti kita harus berniat baik juga
2.Jaga pandangan
  Setiap orang, disaat mereka melihat lawan jenisnya pasti mereka mulai salah tingkah, dan mata mereka mulai tertuju kapada pusatpandangan.(jodoh adalah cerminan kita) mulai sekarang kita sudah bisa mengubah kebiasaan buruk tersebut.
3.Ta`rruf dan kenali dia secara mendalam
   Pastikan kita memiliki perasaan yang nyaman terhadap pasangan kita dan yakin bahwa dia adalah pasangan yang kita inginkan.
4.Teori burung merpati dan burung beo
   Jika kita inin memilih pasangan yang baik, kita harus melihat sisi agamanya, cara beribadahnya, rajin membaca Al-qur`an dan tidak pernah meninggalka shalat sunah (dhuha dan tahajjud) layak nya burung diatas, disaat mereka memilih pasangan mereka lihat dulu asal – usul pasangang mereka itu
5.Senjata utama orang beriman(DOA)
    Do`a adalah senjata orang beriman, setelah berikhtiar semampu kita .Maka sempurnakanlah ikhtiar itu dengan do`a dan jangan berputus asa .
  Itulah beberapa tips dari kami ,yang mungkin bisa diambil manfaatnya silahkan dicoba.[]hibbik.
 Rita Iklima Safriani M.Yusuf (5F)

Teungku Di Anjong

Teungku Di Anjong
[Foto:Istimewa]

umdah.mudimesra.com - Teungku Di anjong Adalah seorang ulama besar yang hidup pada masa kerajaan Aceh masa Sultan Alauddin Mahmud Syah, 1760 – 1781 Masehi. Penobatan nama Teungku Di anjong adalah gelar yang dianugerahkan dengan ungkapan Teungku yang “dianjong” yang berarti disanjung atau di muliakan. Dalam versi lain juga dikatakan bahwa julukan Teungku Di Anjong diberikan karena beliau sangat banyak menghabiskan ibadahnya dengan shalat, berzikir, membaca ratib di anjungan mesjid.

Beliau dikenal sebagai ulama tasawuf namun juga sangat berperan sebagai ulama fiqih dan telah membimbing manasik haji bagi calon-calon jamah haji, baik dari dalam wilayah Kesultanan Aceh, Sumatera maupun dari pulau Jawa, bahkan juga jamaah dari Semenanjung Malaya yang akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah melalui Aceh. Catatan kecil dari warga Peulanggahan menyatakan bahwa julukan Teungku Di Anjong juga diberikan pada saat beliau menikah dengan putri hulubalang dan tinggal dianjungan rumah mertua beliau daerah Lamgapang, Ulee Kareng. Istri tersebut kemudian meninggal (tanpa anak) dan beliau kembali ke Hadramaut. Teungku Di Anjong kembali ke Aceh setelah mempersunting Syarifah Fathimah binti Habib Abdurrahman Al-‘Aidid (Aja Eusteri) di negeri asalnya. Istri beliau dikebumikan tepat disebelah makam Teungku Di Anjong.

Gelar dan nama sebenarnya Teungku Di Anjong adalah Al-Qutb Al Habib Sayyid Abubakar bin Husein Bilfaqih. Beliau berasal dari wilayah Hadramaut, di negeri Yaman. Menurut catatan, kedatangan beliau ke Aceh pada tahun 1642. Kedatangan Teungku Di Anjong ke Aceh tidak langsung melalui Hadramaut tetapi beliau terlebih dahulu mempelajari dan mengamalkan secara sungguh-sungguh semua kandungan yang terdapat dalam kitab Bidayatul hidayah karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali bersama dengan dua ulama lainnya di Madinah. Ulama yang pertama adalah Habib Abdurrahman bin Mustafa Alaydrus yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir dan yang kedua adalah Habib Syeikh bin Muhammad Al-jufri yang berjalan menuju Malabar, India. Kisah perjalanan tiga ulama ini sampai sekarang masih diceritakan dikalangan ulama di Yaman.

Pada Maret 2009, seorang ulama dari daerah Tarim, Yaman bernama Habib Kazim bin Ja’far Assegaf telah berkunjung ke Gampong Peulanggahan menziarahi makam Teungku Di Anjong sekaligus bersilahturahhmi dengan jamaah masjid. Dalam tausyiahnya beliau megatakan bahwa Teungku Di Anjong merupakan keturunan Rasulullah SAW, lahir di Hadramaut  - Yaman, suatu tempat dimana lahirnya para Auliya Allah. Dari sekian banyak Auliya Allah, Teungku Di Anjong merupakan salah satu ulama yang terkenal dengan kedalaman ilmu, akhlak mulia, semangat dakwah yang kuat dalam menyebarkan Islam dan menegakkan syahadat dimuka bumi, yang kemudian Allah SWT mengantarkan beliau ke Aceh, yang juga disebut Asyi oleh bangsa Yaman.

Silsilah Al-Qutb – Al Habib Abubakar bin Husein Bilfaqih ( Teungku Di Anjong ) adalah : Habib Abubakar bin Husein bin Umar bin Abubakar bin Ahmad bin Abdurrahman Bifaqih bin Muhammad bin Abdurrahman Al Asqa’ bin Abdullah bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi  Muhammad An Naqib bin Ali Al ‘Uraidhi bin  Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. – Fathimah Zahra binti Rasulullah SAW.

Ulama Penyelamat Kerajaan Aceh
Naskah penelitian lapangan yang ditulis oleh Adnan Abdullah dari Pusat Pengembangan Ilmu Sosial Unsyiah (1987) mengemukakan tentang kejadian pada masa Sultan Alauddin Mahmud Syah. Pada saat itu, kerajaan Aceh megalami defisit Neraca pembayaran (hutang) dalam jumlah besar kepada kerajaan Inggris. Hal ini sangat mencemaskan Sultan karena menyangkut martabat kerajaan. Konon kabarnya pula, meskipun semua hasil emas yang diperoleh dari tambang di Pariaman di kumpulkan, bersama sama dengan seluruh kekayaan kerajaan, namun jumlahnya masih belum mencukupi untuk melunasi hutang kepada kerajaan Inggris.

Sultan kemudian diberi pendapat oleh majelis kerajaan agar meminta bantuan Teungku Di Anjong. Saran tersebut diterima dan dikirimlah utusan menghadap Teungku Di Anjong yang dibekali dengan seperangkat hidangan makanan untuk memuliakan ulama Kasyaf tersebut. Mengetahui maksud kedatangan utusan tersebut, Teungku Di Anjong menyarankan agar persoalan ini dibicarakan dengan Teungku Syiah Kuala, mufti kerajaan Aceh. Namun, Teungku Syiah Kuala, menyatakan ketidakmampuannya memenuhi permintaan Sultan dan beliau menyatakan bahwa hanyalah Teungku Di Anjong, dengan izin Allah SWT, sanggup membantu Sultan.

Teungku Di Anjong pun bersedia dan meminta untuk disediakan beberapa buah goni ke salah satu tempat di pinggiran Krueng Aceh (sekarang dikenal dengan Pante pirak). Semua goni tersebut diisi dengan pasir dan diangkut ke Pantai Cermen, Ulee Lheu. Sedangkan hidangan dari Sultan beliau kembalikan dengan pesan, bahwa salah satu dari hidangan tersebut hanya boleh dibuka oleh Sultan sendiri. Ketika Sultan membuka hidangan itu, ternyata isinya emas dan permata. Begitu juga pasir dalam goni yang dibawa ke Pantai Cermen sudah berubah menjadi Perak. Dengan logam mulia itulah Sultan Aceh membayar utang kepada kerajaan Inggris. Dengan demikian, martabat Aceh yang nyaris luntur karena tidak mampu membayar hutang tetap terpelihara dalam pandangan kerajaan Inggris, karena munculnya ulama Kasyaf dalam masyarakat.

Masjid Teungku Di Anjong
Nama mesjid Teungku Di Anjong adalah sebuah julukan yng diberikan masyarakat Peulanggahan dimana tempat masjid itu berdiri untuk mengenang dan menghormati sang ulama tokoh pendiri mesjid tersebut. Status tanah mesjid ini adalah tanah wakaf seluas 4 Ha. Sebelum mendirikan mesjid, ulama ini terlebih dahulu memanfaatkan rumahnya (Rumoh Cut), atau rumah kecil yang sangat sederhana sebagai tempat pengajian dan asrama bagi murid-muridnya yang memperdalam agama Islam dan bermalam disana. Oleh karena perkembangannya semakin hari semakin pesat, rumahnya tidak mampu lagi menampung murid-muridnya, akhirnya beliau mendirikan mesjid yang bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga dimanfaatkan untuk bermusyawarah, kepentingan pengajian dan lain-lainnya. Mesjid Teungku Di Anjong selain berfungsi selain berfungsi sebagai sarana tempat shalat dan kegiatan-kegiatan ibadah lainnya, pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia mesjid ini pernah menjadi markas perjuanagan kemerdekaan oleh laskar perjuangan Aceh dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah belanda. Jadi masjid ini tercatat sebagai salah satu mesjid bersejarah di Kota Banda Aceh.

Mesjid Teungku Di Anjong yang ada sekarang dulunya dikenal oleh masyarakat dengan sebutan dayah tiga lantai, lantai pertama disebut dengan Hakikat, lantai kedua Tarekat, lantai ketiga Makrifat. Snouk Hurgronje, dalam bukunya “ The Atjehers ” juga menyaksikan bahwa makam Teungku Di Anjong menjadi tempat melakukan tradisi Peuleuh Kaoy atau bernazar, dan mencatatnya sebagai Ulama yang paling dihormati di Aceh. Di kawasan Mesjid Teungku Di Anjong dahulunya juga dibangun semacam asrama untuk menampung jemaah haji yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Rumoh Raya. Nama desa Peulanggahan juga diperkirakan berasal dari kata persinggahan, karena banyaknya orang yang singgah dahulu di kawasan ini sebelum menuju Mekkah untuk berhaji. Bisa dikatakan bahwa gelar Aceh Serambi Mekah sangat erat kaitannya dengan peran Teungku Di Anjong dan dukungan kerajaan Aceh pada masa itu. Waalllahua ‘Alam.[]hibbik.

3 Alasan Muslimah Istimewa

[Foto:Internet]

umdah.mudimesra.com - Siapa yang tidak tahu dengan definisi kata yang satu ini “Cinta”? Semua orang bahkan membuat definisi cinta menurut versinya masing-masing. Tapi berbeda dengan seorang
muslimah, muslimah memiliki definisi cinta yang istimewa.Cintanya seorang muslimah itu
spesial, tidak mudah di dapat. Karena bentuk cintaNya adalah bukti ketaatanNya pada Allah.
Saat seorang muslimah jatuh cinta, saat bulir-bulir cinta itu hadir dengan halus ke dalam
hatinya, maka saat itu juga ia tahu, hatinya sedang diuji untuk tetap dalam ketaatan pada
Allah? atau mengkhianatiNya?

https://umdah.mudimesra.com/2015/10/10-alasan-muslimah-untuk-bahagia.html

Ini sering terjadi di kalangan remaja yang sedang trend upload foto bersama ‘pacar’. Tapi
apakah muslimah harus melakukannya juga? apakah muslimah fine-fine saja melakukan itu?
Jawabannya adalah “Kau berbeda ukhti, gelar muslimah yang ada padamu tidak untuk hal-
hal yang tidak berbobot seperti mengikuti trend-trend kekinian”
Ada beberapa alasan yang membuat muslimah itu ISTIMEWA :

1. Muslimah itu Terjaga
Muslimah itu terjaga? YA ! Muslimah yang senantiasa hidup bersama Al-qur’an dan
mengamalkannya, maka ia sungguh terjaga dari hal-hal yang di benci Allah. Misalnya, zina.
Bukankah hal tersebut marak terjadi di kalangan pemuda masa kini? Salah satu yang
membuat muslimah terjaga adalah karena ia meyakini sebuah kutipan firman Allah yang
termaktub dalam Al-qur’an:
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk
perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik
untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang
baik(pula) mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh
ampunan dan rezeki yang mulia” (QS 24:26)
Nah, sahabat muslimah, sudahkah kau pahami betapa terjaganya dirimu jika taat pada
Allah?

2. Muslimah itu Cerdas
Salah satu bukti bahwa muslimah itu cerdas adalah prinsip hidupnya yang senantiasa
berpegang teguh pada Al-qur’an dan Ilmu . Seorang muslimah yang selalu berpedoman pada
Al-qur’an, tidak mau asal ikut-ikutan trend, maka sungguh ia telah berhasil memegang
prinsip hidupnya. Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini, banyak orang yang telah melejit
karirnya, atau pendidikannya namun tiba-tiba ambruk, hancur begitu saja karena alasan-
alasan yang berkaitan dengan lemahnya prinsip hidup.
Jika kita mau melihat lagi atau membaca lagi buku-buku sirah nabawiyah, buku-buku yang
mengisahkan tentang para sahabat nabi, atau istri-istri nabi, maka kita akan dapati prinsip-
prinsip hidup yang tidak hanya cerdas namun bermanfaat juga untuk orang lain. Seorang
muslimah harus memiliki mental baja untuk menghadapi perguliran zaman dari waktu ke
waktu. Melihat situasi dan kondisi dengan cermat tanpa mengkotak-kotakan antara dunia
dan akhirat. Di situlah letak kecerdasan seorang muslimah. Saat ia mampu mengelola
kehidupan duniawinya namun tetap juara dalam ilmu akhiratnya. Sobat muslimah, bisakah
kita memulai menjadi muslimah cerdas mulai detik ini?

3. Muslimah itu Rahim Peradaban
Muslimah tidak perlu susah payah mengubah dunia. Muslimah tidak perlu berpanas-panas
ria di jalan untuk memperbaiki kerusakan moral remaja. Muslimah hanya perlu melakukan
dua hal untuk dapat mengubah dunia dan memperbaiki moral remaja, yaitu : Taat pada
Allah dan RosulNya.
Mudah? Simple?

Sebetulnya tidak. Tapi kita benar-benar bisa memulainya dengan berbakti kepada orang tua,
memperbanyak sedekah, rajin menuntut ilmu akhirat maupun ilmu dunia, dsb. Dengan
seorang muslimah yang sibuk memperbaiki kualitas dirinya, maka sebenarnya ia sedang
“memulai” untuk mengubah dunia. Karena , anak-anak cerdas akan lahir dari rahim seorang
ibu yang cerdas, anak-anak yang sholih merupakan didikan dari ibu/muslimah yang sholiha.
Begitu istimewanya seorang muslimah jika ia mampu memahami betapa berharganya
dirinya jika taat pada Allah dan Rosulnya. 3 keistimewaan muslimah di atas, hanya sedikit
dari banyaknya nikmat lain yang Allah anugerahkan pada diri seorang muslimah, maka
sebelum kita “mengumbar” cinta, pahami dulu poin-poin di atas, percayalah Allah tidak
akan menyia-nyiakan hambaNya yang taat. Tidak akan pernah. Dan janji Allah tidak akan
mengkhianati.[]hibbik.

Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi
[Foto:Internet]

umdah.mudimesra.com - Kalau dipikir dengan logika maka kisah dan cerita tentang ashabul kahfi termasuk sebuah kejadian luar biasa, fenomenal dan sangat menakjubkan. Manusia manapun tak akan bisa menjelaskan dan tak akan sanggup menerima jika ada orang yang bisa memiliki usia hingga ratusan tahun lamanya. Namun bagi orang yang beriman kepada Allah SWT dan meyakini bahwa tak ada yang tak mungkin jika Allah telah berkehendak maka orang orang yang demikian akan sampai pada pemahaman spiritual yang semakin mendekatkan dirinya pada Sang pencipta.


Kisah ashabul kahfi bukanlah lelucon,dongeng atau hanya sebuah rekayasa fiktif manusia. Secara historis kejadian tersebut punya hubungan erat dengan kegelisahan Rosullullloh Saw saat ditanya oleh beberapa orang Yahudi untuk membuktikannya bahwa Beliau memang seorang Nabi Utusan Allah. Orang orang Yahudi ini bertanya, wahai Muhammad, tolong ceritakan kepada kami tentang kisah 7 pemuda yang rela mengasingkan diri untuk mempertahankan keyakinannya kepada Allah SWT, jika engkau saanggup menceritakan dengan benar maka kami juga akan mengikuti ajaranmu dan menjadi bagian dari Islam.



Lalu Nabi Muhammad Saw memohon pertolongan pada Allah SWT dan selang beberapa waktu kemudian beliau mendapat wahyu yang berisi penjelasan tentang kisah ashabul kahfi atau cerita tentang 7 pemuda yang ditanyakan oleh orang yahudi tersebut. Penjelasan mengenai kisah ashabul kahfi ini dimuat dalam beberapa ayat dari surat al kahfi pada kitab suci al quran. Sesuai dengan kandungan al quran, kronologi dari kisah ashabul kahfi adalah sebagai berikut :

Pada zaman dulu hiduplah seorang raja yang bernama Dikyanus, dia termasuk kejam dan sewenang wenang dalam memimpin rakyatnya. Kekejaman raja yanhg super otoriter ini memberlakukan aturan yang tak boleh dilanggar oleh rakyatnya. Siapapun yang menentang keinginan raja maka sama saja ingin mengakhiri hidupnya lebih awal. Salah satu aturan yang tak bisa diterima oleh rakyat adalah pemaksaan kehendak untuk menyembah Tuhan selain kehendak raja. Semua rakyat diwajibkan menyembah raja dan tak ada satupun rakyat yang diperbolehkan menyembah selain raja brengsek tersebut.

Karena ketakutan, sebagian besar rakyat di negeri itu tunduk dengan aturan kejam sang raja. Tapi meskipun demikian, ada sekelompok pemuda yang tidak mau mematuhi keinginan raja, mereka secara sembunyi sembunyi tetap mempertahankan keinginan untuk menyembah dan mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan yang pantas disembah dan dimintai pertolongan. Dialah Allah SWT Sang Penguasa alam beserta isinya yang kekal abadi dan tak akan pernah kekurangan, tempat kita meminta pertolongan dalam suka maupun duka.

Keyakinan 7 pemuda ini kemudian diketahui oleh mata mata raja yang suka menjilat dan mencari muka dihadapan raja, kontan saja raja dikyanus marah besar. Raja lalu meminta para pembantunya untuk segera menyeret pemuda tersebut kehadapan raja. Sesampainya dihadapan raajaa, ketujuh pemuda ini ditawari berbagai hal yang menggiurkan seperti jabatan tinggi, kekuasaan meilmpah dan wanita tercantik di negeri itu asal ketujuh pemuda mau melepas keyakinan dan hanya menyembah raja dikyanus. Mereka bukanlah pemuda dengan iman kerupuk yang mudah rusak, merekaa juga orang orang yang mencintai jabatan, ataupun orang yang suka mengumbar nafsu syahwat kepada wanita. Tawaran raja ditolak dengan tegas dan mereka lebih memilih Allah SWT sebagai Tuhan sepanjang hidupnya.


Jawaban para pemuda semakin membuat raja berang dan kehilangan kendali. Dia mengancam akan menghukum mati para pemuda jika dalam beberapa hari tak mau merubah keyakinannya dengan segera. Pemuda tidak takut dengan ancaman tersebut dan telah bertekad untuk mempertahankan iman hingga tetes darah penghabisan. Bagi mereka lebih baik mati menggenggam iman daripada mengikuti ajakan raja untuk menyekutukan Allah SWT. Ketujuh pemuda ini kemudain membuat kesepapakatan untuk bersembunyi ke sebuah tempat. Berangkatlah mereka bertuju dengan ditemani seekor anjing sebagai penunjuk jalan.

Ketujuh pemuda ini akhirnya sampai di sebuah gua dan untuk bersembunyi disana. Karena kelelahan, ketujuh pemuda ini tertidur sementara anjingnya berada di sekitar pintu gua.Keesokan harinya raja meminta agar segera membawa para pemuda untuk dihukum mati, tapi langkah raja kejam ini membuahkan kegagalan, sebab para pemuda telah pergi dan sangat susah dicari. Seluruh rakyat pun dikerahkan untuk mencari para pemuda yang dianggap membangkang, siapapun yang mampu menemukan dan membawa mereka maka raja telah menyediakan hadiah dan kenaikan pangkat bagi para pembantu setianya.


Pencarian pun dimulai, ada sekelompok punggawa kerajaan yang akhirnya menemukan sebuah gua di tengah hutan. Tapi karena gua ini dianggap sangat angker, mereka takut untuk memasukinya. Demi menyenangkan hati sang raja, para punggawa kerajaan ini melaporkan jika mereka telah menyusuri semua tempat di negeri ini dan telah menutup sebuah gua dengan tujuan bila para pemuda ini berada di dalam maka mereka akan mati kelaparan dan tak akan bisa keluar. Itulah batas logika manusia yang merasa telah punya kekuasaan dan merasa paling hebat dibandingkan dengan yang lain, padahal kita semua mengerti jika ada sebuah kekuatan yang tak mungkin bisa ditaklukkan oleh daya pikir manusia. Dialah Allah SWT yang tak akan membiarkan orang orang membuat kerusakan dan penderitaan pada hamba hamba terkasihNya.

Waktu terus berlalu, zaman pun telah berganti dari beberapa generasi. Kini kerajaan yang dulu dipimpin oleh raja kejam plus musyrik telah berubah menjadi sebuah negeri yang maju dan punya kebebasan dalam menjalankan keyakinan agamanya masing masing. Sementara itu para pemuda yang tertidur di gua terbangun karena perut terasa lapar, mereka saling bertanya tentang berapa lama mereka tertidur di dalam gua. Salah satu sahabatnya mengatakan jika mereka mungkin tertidur setengah jam, satu lagi berkata jika dia tertidur satu jam,intinya mereka tidak mengerti secara tepat berapa lama mereka tertidur di dalam gua. Lalu salah satu dari mereka diminta untuk pergi ke pasar mencari makanan. Dengan langkah hati hati mereka menyusuri jalan sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya. Dia masih takut jangan jangan ada mata mata dari raja dikyanus.

Sampai juga pemuda yang mulia ini di pasar, ia menemui salah satu penjual yang menjajakan makanan. Namun penjual keheranan dengan uang yang digunakan oleh pemuda ini, ia memandangi pemuda dan memanggil pengawas pasar yang sangat bijak. Pengawas pasar kemudian membawa pemuda ini kehadapan baginda raja yang sholeh. Betapa terkejutnya raja saat pemuda ini menceritakan siapa dia sebenarnya, raja memeluk pemuda dengan kucuran air mata yang begitu banyaknya. Raja yang sholeh ini kemudian menjelaskan kepada pemuda itu bahwa raja kejam dikyanus telah mati 309 tahun yang lalu.

Seketika suasana istana menjadi sangat hening dan terharu oleh kehadiran pemuda yang luar biasa. Tanpa diminta raja lalu mengajak semua orang yang hadir untuk menjemput teman para pemuda yang masih di dalam gua untuk dibawa ke istana. Dihadapan banyak orang, pemuda ini mengatakan agar kita selalu beriman kepada Allah SWT, jangan pernah tunduk kepada siapapun yang mengajak pada jalan kesesatan dan kemusryikan. Meski raja telah meminta berkali kali agar para pemuda ini tetap tinggal di istana, tapi pemuda menolak dan tetap memilih untuk kembali ke gua lagi. Beberapa waktu kemudian Allah mengambil ruh mereka dan kembali kepadaNya untuk selama lamanya.

https://umdah.mudimesra.com/2015/04/nama-nama-para-sufi-ashabul-kahfi-dan.html

Sumber dari Al Qur'an:
Surat Al Kahfi adalah surat yang ke 18 dalam Al Qur'an.
Kisah Ashabul Kahfi. Kisah ini diawali dari ayat ke-9 sampai ayat ke 26. Yaitu kisah sekumpulan pemuda muslim yang hidup di negeri kafir. Mereka bertekad hijrah untuk mempertahankan agama. Ini dilakukan setelah mereka mendakwahi kaumnya lalu mendapatkan penolakan, tekanan, dan intimidasi.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا (٩)
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (١٠)
فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا (١١)
ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا (١٢)
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (١٣)
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (١٤)
هَؤُلاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (١٥)
وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا (١٦)
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا (١٧)
وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا (١٨)
وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (١٩)
إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا (٢٠)
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا (٢١)
سَيَقُولُونَ ثَلاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلا قَلِيلٌ فَلا تُمَارِ فِيهِمْ إِلا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا (٢٢)
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (٢٣)
إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (٢٤)
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا (٢٥)
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (٢٦)

Artinya:
9. atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim[872] itu, mereka Termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
10. (ingatlah) tatkala Para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini)."
11. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu[873],
12. kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu[874]] yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).
13. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
14. dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri[875], lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran".
15. kaum Kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
16. dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu[876].
17. dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
18. dan kamu mengira mereka itu bangun, Padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.
19. dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.
20. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya".
21. dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka[877], orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya Kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya".
22. nanti (ada orang yang akan) mengatakan[878] (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
23. dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,
24. kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah"[879]. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".
25. dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
26. Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan Alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan".

Penjelasan:
[872] Raqim: sebagian ahli tafsir mengartikan nama anjing dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat.
[873] Maksudnya: Allah menidurkan mereka selama 309 tahun qamariah dalam gua itu (Lihat ayat 25) sehingga mereka tak dapat dibangunkan oleh suara apapun.
[874] Kedua golongan itu ialah pemuda-pemuda itu sendiri yang berselisih tentang berapa lamanya mereka tinggal dalam gua itu.
[875] Maksudnya: berdiri di hadapan raja Dikyanus (Decius) yang zalim dan menyombongkan diri.
[876] Perkataan ini terjadi antara mereka sendiri yang timbulnya karena ilham dari Allah.
[877] Yang mereka perselisihkan itu tentang hari kiamat: Apakah itu akan terjadi atau tidak dan Apakah pembangkitan pada hari kiamat dengan jasad atau roh ataukah dengan roh saja. Maka Allah mempertemukan mereka dengan pemuda-pemuda dalam cerita ini untuk menjelaskan bahwa hari kiamat itu pasti datang dan pembangkitan itu adalah dengan tubuh dan jiwa.
[878] Yang dimaksud dengan orang yang akan mengatakan ini ialah orang-orang ahli kitab dan lain-lainnya pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.
[879] Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. dan beliau tidak mengucapkan insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.[]hibbik.

Mustafa

Santri belajar
[Foto : Internet]

Dia Mustafa. Kelas satu Y dan tamat SD. Suaranya agak serak, perwakannya dewasa dan uniknya bisa bahasa tamiang hulu dan hilir.
Jumat kemarin, usai shalat jumat si Must mondar mandir dibilik. Entah apa yang dicari dan difikirkan.
Terus Mr Acong (salah satu angota bilik) tanya “kok mondar mandir Must ? “
Si Must jawab “ Must rindu mamak, rindu adek jugak ! ”
Dalam keheningan ketika usai Si Must bilang dia rindu mamak saya membatin “ saya kalah dari adik kecil ini, dia hebat sekali. Walaupun Tidak banyak hal yang bisa di banggakan bagi santri yang masih kelas satu. Ilmunya masih sedikit dibanding kami anggota biliknya, iaa cuma Mustafa yang kelas satu disini. Kemampuan membaca kitab kuning masih buta, awamil, hukum isim belum dihapal sempurna. Teman juga belum banyak . dan semua kekurangan yang mustafa miliki hancur dan binasa. Binasa karena dia berhasil rindu mamak.
Sementara aku ??? siapa yang kurindu ?

Ada banyak hal yang tak bisa cukup logika mengukurnya. Saat ini kadang kita punya barisan militer yang kuat, otak yang cerdas dan badan yang sehat tapi bisa saja semua itu tidak bisa di andalkan karena pada dasarnya peneten keberhasilan, kebahagian yang hakiki adalah Dia zat yang maha Kuat. Allah.
Sebaliknya ketika kita miliki sejuta alasan untuk kalah, kelemahan, ketidak berdayaan kita juga tidak boleh bersandar 100 persen dengannya sehingga spirit yang keluar adalah spirit para orang yang kalah. Karena masih ada Allah yang menentukan nasib kita. Inilah konsep raja’.

Diwaktu yang lain. Mustafa sedang lipat baju. 
Nuun :  “Mus kenapa masuk dayah ? “
Dia senyum, sambil sedikit nyengir Mustafa bilang “ mus mau jadi imam mamak ! “
Secara tidak langsung, si mus pesan bahwa belajarlah untuk orang lain. Bukan untuk diri sendiri saja. Sedikit sekali manfaat yang ada, bila belajar cuma untuk melindungi hak hak diri sendiri saja. melindungi makanan dn pakaian. Mengukur mana haram dan haram tanpa mau tau apakah diri kita ini halal dan haram. Belaum katam ta’limul mutaalim tapi dia sudah duluan bagaimana niat seorang penuntut ilmu. Jadi imam mamak adalah bagian dari pada menghidupkan agama.
Beruntung punya Mustafa, andai dia Ikram. Adik saya.