Bagaimana Cara Memuliakan Anak Yatim

No comments

Majalahumdah.com.Tadi pagi, saat mengajar kitab Tuhfatut Thullab pada bab Taflis, kami melihat bahwa dalil pembekuan tasharruf (hak menggunakan harta) bagi muflis atau orang yang hutangnya lebih banyak dari hartanya adalah apa yang Nabi Saw praktekkan kepada Saidina Muaz bin Jabal. Karena hutangnya banyak, maka hartanya disita dan dijual untuk dibagi-bagikan kepada pemberi utang dimana masing-masing mereka mendapatkan 5/7 dari total utang yang diberikannya.

Siapa Mu'az bin Jabal? Beliau adalah sosok yang disebut oleh Rasulullah Saw sebagai Sahabat yang paling pandai memahami perkara halal dan haram. Hal ini tidak menafikan bahwa Saidina Abu Bakar adalah sahabat yang paling alim dengan syariat secara mutlak setelah para Ambiya, karena kelebihan yang didapatkan seseorang secara mutlak tidak menafikan bila ada sosok lain yang memiliki kelebihan darinya pada bidang tertentu. Hal ini sama dengan Zaid bin Tsabit yang disebutkan oleh Rasulullah Saw sebagai sahabat yang paling paham persoalan harta warisan.

Kembali kepada soal utang tadi, setelah Rasulullah saw membayar sebagian utang Mu'az kepada para ghurama', Rasul berkata, Untuk saat ini, tidak ada bayaran lain kecuali ini (5/7 dari utang secara keseluruhan). Artinya jika kemudian hari Mu'az kaya, maka dia akan melunasi total hutangnya.

Rasulullah saw kemudian mengutus Mu'az ke Yaman karena wilayah Hijaz agak sulit bagi Mu'az mencari biaya yang dapat melunasi utangnya. Rasulullah saw kemudian berdoa, "Semoga Allah menanggung kekuranganmu dan melunasi utangmu." Maka Mu'az senantiasa berada di Yaman sampai wafatnya Rasulullah saw dan qadarullah berkah doa Rasulullah saw hutangnya berhasil dilunasi.

Apa sebab Saidina Mu'az dililit hutang yang begitu banyak?
Ternyata beliau adalah seorang washiy yang diamanahkan untuk mengurus banyak anak yatim. Dalam mengurus anak yatim, beliau lebih sering menggunakan harta milik pribadinya ketimbang harta mereka. Karena itulah beliau banyak berhutang.
Biasanya orang yang banyak hutang karena ingin memenuhi fasilitas pribadi atau gaya hidup yang lebih dari sewajarnya. Tapi lihatlah Saidina Mu'az bin Jabal... Bagaimana cara beliau berinteraksi dengan anak yatim, sampai harus merantau meninggalkan tempat tinggalnya dan merelakan perpisahan dengan Nabi, demi melunasi hutang beliau dalam mengasuh anak Yatim, di samping tujuan dakwah tentunya.

Kemarin mendengar Habib Ali Zaenal Abidin Al Jufri lewat streaming yang sedang berdakwah di Indonesia menyampaikan ;
Rasulullah saw adalah bapaknya anak yatim. Artinya anak-anak yatim merasakan perhatian yang luar biasa dari Rasulullah seakan mereka merasa masih ada orang tua. Adakah anak yatim di tempat kita merasa bahwa orang di sekelilingnya perhatian kepada mereka? Semoga pribadi ini dan kita semua termasuk orang yang perhatian kepada anak yatim. Dan semakin dekat dengan anak yatim, itu artinya semakin dekat dengan Rasulullah saw. Tentu saja, tidak ada tempat lain bagi orang yang dekat dengan Rasulullah saw selain syurga.

Rasulullah saw bersabda :
انا وكافل اليتيم كهاتين في الجنة
"Aku bersama orang yang mengasuh anak yatim bagaikan dua ini dalam syurga." (sambil mengisyaratkan dua jarinya.
Namun perlu dipahami bahwa perhatian kepada anak yatim harus diwujudkan dengan cara yang baik.
Ada orang yang mengundang anak yatim ke rumahnya hanya untuk sekedar makan sepiring nasi, lalu mereka yang di tempat pendidikan misalnya harus rela jadwal belajarnya terganggu, atau kadang harus berdesak-desakan dalam mobil labi-labi sementara mobil bagus miliknya diparkir rapi, atau moto teuhah ubong di tengah teriknya cahaya matahari... Apakah seperti ini cara memuliakan anak yatim? 😥
Ada yang beralasan, kalau cuma diantar makanan ke tempat pendidikan gak ada berkah rumahnya... Pertanyaannya memaksa anak yatim berlelah-lelah menuju rumah kita adakah seperti itu cara memperoleh keberkahan?

Dalam pandangan Alfaqir yang mungkin bisa salah, ada baiknya kalau anak yatim sedang berada di tempat belajar, biarlah mereka belajar, jangan ganggu waktu belajar mereka, antar saja rantangan makanan dan sedekahnya. Kalau pun ingin dibawa keluar, lebih baik ajak mereka ke tempat wisata di waktu libur yang dapat menyenangkan mereka... Kalau pun harus diundang ke rumah, undanglah dengan cara terhormat, jemput dengan kendaraan yang paling bagus yang kita punya, berikan hadiah yang cukup untuk waktu yang mereka korbankan, karena merekalah tamu spesial yang harus kita istimewakan.

Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang peduli kepada anak yatim dengan apa yang mampu kita lakukan... Allahu Musta'an...

Tgk Muhammad Iqbal Jalil 




No comments

Post a Comment