Pentingnya Memahami Asbabun Nuzul

No comments

Majalahumdah.comPerlu dipahami bahwa ayat Alquran sebagiannya diturunkan secara ibtidaan, yaitu tanpa diawali oleh suatu kejadian atau adanya suatu pertanyaan. Sementara sebagian lainnya diturunkan berberengan dengan terjadinya suatu peristiwa. Nah, model kedua ini disebut ayat yang memiliki asbab nuzul.

Lalu apa pentingnya memahami asbab nuzul?
Ada banyak faedah dari memahami asbab nuzul, di antaranya adalah agar tidak terjebak dalam kesalahan memahami ayat Alquran.
Dalam kitab Al-Itqan fii Ulum Al-Quran, Imam Suyuthi menunjukkan beberapa contoh ayat yang sangat berpotensi kepada kesalahan dalam pemahaman andai tidak memahami asbab nuzul.

Pertama :
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih. (Ali Imran : 188)
Marwan bin Al-Hakam pernah mengalami kesulitan dalam memahami ayat ini. Beliau berkata, "Kalau setiap orang merasa senang atas apa yang ia kerjakan dan merasa gembira saat dipuji terhadap apa yang tidak ia kerjakan, maka sungguh kita semua akan merasakan azab." Lalu Ibnu Abbas menjelaskan bahwa konteks ayat ini ditujukan kepada Ahlu kitab, di mana saat Nabi Saw bertanya kepada mereka tentang sesuatu, mereka menyembunyikannya dan memberitakan yang sebaliknya. Mereka mengira bahwa mereka telah menyampaikan apa yang Nabi Saw tanyakan dan merasa terpuji dengan hal itu.

Kedua :
لَيْسَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جُنَاحٌ فِيْمَا طَعِمُوْٓا
Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan …(Al-Maidah : 93)
Diceritakan bahwa Utsman bin Mazh’un dan ‘Amr bin Ma’di Karib berpendapat bahwa khamar itu mubah dengan berdalilkan ayat di atas. Seandainya keduanya memahami asbab nuzul ayat ini pasti tidak akan mengeluarkan pendapat seperti itu. Asbab nuzulnya adalah ada beberapa orang yang berkomentar saat diharamkan khamar, “Bagaimana nasib orang-orang yang telah berjihad di jalan Allah dan kini mereka telah syahid sementara dalam hidupnya dulu pernah meminum khamar yang merupakan sesuatu yang keji.” Maka diturunkanlah ayat ini yang menyatakan bahwa apa yang sudah terjadi sebelum turunnya ayat yang mengharamkan khamar tidak dikenakan ganjaran apa-apa.

Ketiga :
وَالّٰۤـِٔيْ يَىِٕسْنَ مِنَ الْمَحِيْضِ مِنْ نِّسَاۤىِٕكُمْ اِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلٰثَةُ اَشْهُرٍ
Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idahnya adalah tiga bulan… (At-Thalaq : 4)
Frasa syarat “jika kamu ragu-ragu” menyebabkan kemusykilan bagi sebagian imam, sehingga kelompok Zahiriyyah berpendapat bahwa wanita menopause tidak ada iddah baginya. Kemusykilan ini menjadi jelas dengan melihat asbab nuzulnya, yaitu saat diturunkan ayat dari surat Al-Baqarah yang menjelaskan bentuk iddah para wanita, ada yang berkata masih tersisa bentuk iddah anak-anak dan orang tua yang belum dijelaskan. Maka turunlah ayat ini.
Maka dapat dipahami bahwa ayat ini merupakan khitab kepada orang-orang yang belum tau dan masih ragu-ragu tentang iddah wanita menopause, adakah bagi mereka iddah atau tidak? samakah iddahnya seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah atau tidak?
Maka frase “jika kamu ragu-ragu” maksudnya adalah jika kamu masih belum tau dan masih bingung tentang hukumnya, ini adalah hukumnya.

Keempat :
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ
Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajhullah (kiblat yang Allah ridhai – Tafsir Jalalain)…. (Al-Baqarah : 115)
Seandainya kita hanya berpedoman kepada makna ayat, maka sungguh akan menghendaki tidak wajib bagi orang yang melakukan shalat untuk mnghadap kiblat baik di tempat tinggalnya atau sedang dalam perjalanan. Pemahaman seperti ini tentu saja bertentangan dengan ijma’ (konsensus Ulama). Setelah memahami asbab nuzul, baru kita tau bahwa ayat ini konteksnya adalah terkait shalat sunat dalam perjalanan atau shalat bagi orang berada di tempat yang tidak tau ke mana arah kiblat sehingga perlu berijtihad berdasarkan khilaf riwayat pada keduanya.


Kelima :
اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا
Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘i antara keduanya…. (Al-Baqarah : 158)
Kalau melihat kepada zahir lafaz ayat, maka tidak menunjuki sa’i itu fardhu, sehingga ada yang memahami sa’i itu tidak wajib atas dasar pemahamannya dari ayat ini. Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha menolak pemahaman seperti ini dari Urwah dengan menjelaskan asbab nuzulnya, yaitu para sahabat awalnya merasa khawatir berdosa melakukan sa’i karena hal ini merupakan amalan orang-orang jahiliyah. Maka turunlah ayat ini yang dapat menghilangkan keresahan para sahabat bahwa sekalipun mereka tidak berdosa melakukan sa’i meski itu dulunya merupakan amalan jahiliyyah. Jadi bukan bermakna sa’i itu bukan fardhu.

Demikian beberapa contoh ayat yang Alfaqir rangkum dari kitab Al-Itqan fii Ulum Al-Quran karya Imam As-Suyuthi di mana sangat dimungkinkan terjadi kesalahpahaman bila tidak memahami asbab nuzulnya. Semoga bermanfaat!

Tgk Muhammad Iqbal Jalil 


No comments

Post a Comment