Bukan Sekedar Perhiasan Bumi

No comments


umdah.mudimesra.com   Manusia adalah makluk Allah yang paling sempurna. Allah berfirman dalam surah At Tin 04  “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Paras yang cantik, bentuk tubuh yang ideal, di disain untuk memudahkan aktifitas manusia itu sendiri. Manusia diberikan akal yang kemudian membedakan manusia dengan ciptaan Allah lainnya.

Manusia bukanlah hiasan dunia yang sekedar ada tanpa maksud penciptaan. Perhatikan betapa banyak nikmat yang Allah berikan untuk manusia, bumi beserta isinya adalah tempat manusia mencari, megembara, memanfaatkan aa yang ada di dalamnya.

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratn dan dilautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”. (Q.S Al Isra’: 70)

Mengomentari ayat tersebut Imam Jalal dalam tafsir Jalalain mengatakan “ (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan) Kami utamakan (anak-anak Adam) dengan pengetahuan, akal, bentuk yang paling baik, setelah wafat jenazahnya dianggap suci dan lain sebagainya (dan Kami angkut mereka di daratan) dengan menaikikendaraan (dan di lautan) dengan menaiki perahu-perahu (dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan) seperti hewan-hewan ternak dan hewan-hewan liar (dengan kelebihan yang sempurna.) Lafal man di sini bermakna maa; atau makna yang dimaksudnya menurut bab yang berlaku padanya. Maknanya menyangkut juga para malaikat; sedangkan makna yang dimaksud adalah pengutamaan jenisnya, dan tidak mesti semua individu manusia itu lebih utama dari malaikat karena mereka lebih utama daripada manusia yang selain para nabi.

Buya Hamka berkata “ Bila manusia hidup cuma sekedar hidup maka babi juga hidup, bila manusia berkerja bekerja Cuma sekedar bekerja maka kera juga bekerja” Bahkan sering kita mendengar bila manusia mengumpulkan air laut dan dedaunana untuk menghitung jumlah fasilitas yang Allah berikan kepada manusia sungguh manusia itu tidak mampu menghitung sekalipun dengan mesin hitung paling mukhtahir. Nikamat bagaikan hujan deras terus Allah berikan tanpa kita minta, atau memang kita yang meminta tapi seberapa mampu lisan ini meminta begitu banyak kebutuhan kita setiap waktunya. Demikanlah Allah begitu kasih sayang terhdapa hambanya.

Sudah saatnya kita sadar betapa besar nikmat dan karunia yang kita pakai selama ini. Lalu untuk apa kita diciptakan ? apakah untuk hiasan saja ? kembali kepada pertanyaan. Ibarat sebuah ladang, bumi adalah tempat kita menanam. Dunia mazra’ah lil akhirat. Usia, kesungguhna kita dalam bercocok tanam di dunia tidak akan mengihianati hasil yang akan kita aih esok. Alam barzah adalah tempat bernikmat yang sugra adapun akhirat adalah tempat kita memanen amal yang kubra. 

Ibadah adalah orientasi kehidupan kita. Sebagai apa dan dimana kita duduk berkerja ada ibadah disana. Dalam hutan rimba sekalipun masih ada sepetak tanah untuk kita bersujud kepadaNya. Sibuk dengan ibadah sendiri, kesampingkan kesibukan kita terhadap amala keburukan orang lainya. Man Rabbuka (siapa Tuhan engkau)  yang akan ditanya, bukan Man Rabbuhu ( Siapa tuhan dia ).

Waallahu’alam

riz.ar

No comments

Post a Comment