Tugu Lambang Keberanian Bireuan

No comments

C:\Users\elbarackcomp\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190712-WA0018.jpg

Majalahumdah.com. Pertama kali saya mendengar tentang cerita orang Aceh berperang dengan Jepang dari cerita ayah saya , “Krueng Panjoe nyan tempat ureung tanyoe poh ureung Jepang yoh masa awai.”(Krueng Panjoe merupakan tempat dimana dulunya rakyat Aceh membunuh serdadu Jepang). Ya, dulunya Krueng Panjoe merupakan tempat terjadinya peperangan antara orang aceh dengan serdadu Jepang dan tempat itupun menjadi sebuah kenangan pahit bagi Jepang, karena di tempat tersebut  mereka memperoleh kekalahan dalam melawan pejuang Aceh yang kala itu begitu berani dan cekatan dalam mempertahankan tanah kelahirannya.

Untuk  mengenang peristiwa besar tersebut, di tempat itu sekarang telah dibangun sebuah tugu berbentuk bambu runcing sebagai bukti atau lambang keberanian bangsa Aceh, dan juga tertuliskan deretan nama para pejuang handal yang ikut andil dalam perjuangan tersebut seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap yang juga pendiri Almuslim sebagai cikal bakal berdirinya salah satu Universitas Swasta terbesar di Aceh saat ini yakni Universitas Almuslim.

Selanjutnya, tugu yang terkesan jarang dikunjungi itu juga dicantumkan nama sejumlah pimpinan lainnya yang ikut dalam pertempuran. Mereka adalah Tgk. Ismail. AR, Tgk. H. Mohd Thahir Mahmud, T. Usman Hamid, Tgk. Ibrahim Arifin, Sayed Umar. A. Wahab, Syahkubad Mahmud, M. Abidin Amin, T. Puteh Arifin, Tgk. Pang Ali dan Syeh Muhammad Insya.

Masih di tugu tersebut, ada juga nama pahlawan yang syahid di medan perang seperti Mandor Basyah, Tgk. H. Cut Ben, Tgk. H. Krueng, Yakob Ibrahim, Yahya Umar, Tgk. Husin Karim.

Teringat pertama sekali saya melihat tugu itu waktu masi kecil, dulu ketika bermain bersama kawan, ketika melihat bangunan yang kokoh berdiri disamping sebuah lapangan olahraga yang dikelilingi oleh persawahan hati bertanya-tanya “pu nyoe lage buloh cincu”(benda apa ini mirip seperti bambu runcing), hal tersebut selalu terbayang di pikiran, sesampainya dirumah saya langsung bertanya sama ayah namanya Zakaria Hanafiah, kebetulan ayah adalah pecinta sejarah, Kata ayah “Itu adalah Tugu yang didirikan untuk mengenang pertempuran pejuang kita melawan Jepang” dan dari situlah dimulainya cerita ini, beliau langsung bercerita panjang lebar tentang sejarah tersebut.

Perang di Krung Panjoe terjadi pada 24 - 26 November 1945. Hasil pertempuran tiga hari berturut-turut itu, para pejuang Aceh berhasil membuat satu batalyon tentara Jepang-yang ingin merebut kembali kota Bireuen-bertekuk lutut. Pejuang Aceh kala itu gencar melucuti senjata pasukan Jepang.

Tentara Jepang yang sudah berkemas terkonsentrasi di Lhokseumawe dikonsolidasikan menjadi satu batalyon tempur. Mereka diperintahkan untuk menduduki kembali Kota Bireuen dan tempat-tempat strategis lainnya untuk merampas kembali senjata yang sudah jatuh ke tangan rakyat. Sementara di kalangan pemuda pejuang Aceh, pemburuan senjata Jepang terus dilakukan, ini pekerjaan nekad. Disamping keberanian, juga dibutuhkan trik-trik yang jitu. Keberanian saja tidak cukup. Ada satu hal yang sangat mengesankan. Para pejuang dan pemuda kita(Aceh) kala itu tampaknya berlomba-lomba menyodorkan diri atau berebut ingin diberi tugas oleh pimpinan untuk merebut senjata Jepang di asrama bahkan digudangnya sekalipun. Saat itu muncul jargon “Tentra Jepang jeut di bet langkah dari Aceh tapi meusineuk aneuk bude bek ipeutibit”(Serdadu Jepang boleh enyah dari Aceh, tapi senjatanya satu pelor pun tidak boleh berpindah tempat).

Tidak dapat di pungkiri terhadap semangat juang yang terpancar dari pemuda Aceh, karena sejak dulu rakyat Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam,seperti  Hikayat Prang Sabi, yang merupakan salah satu karya monumental seorang ulama sekaligus pejuang Aceh yakni Tgk Chik Pante Kulu, Hikayat Prang Sabi merupakan syair kepahlawanan yang membentuk irama dan nada yang sangat heroik, mampu mendorong semangat jihad bagi pejuang Aceh. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak Aceh, baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil dari masa ke masa dalam sejarah Aceh sepanjang abad. Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam membakar semangat perjuangan rakyat Aceh.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemuda dan pejuang Aceh untuk menerobos, menguasai alat persenjataan jepang dari sarang-sarangnya. Di daerah Bireuen  terdapat gudang persenjataan milik Jepang untuk menyuplai kebutuhan perang, tepatnya di Tepin Mane di pinggiran kota Bireuen menuju arah jalan ke Takengon. Di Cot Gapu juga terdapat lapangan terbang darurat yang sebelumnya dijadikan resimen induk Jepang yang memasok kebutuhan logistik militernya. Di sana waktu itu masih tersimpan logistik dan senjata Jepang termasuk tank yang onderdilnya sudah dipreteli. Malah dari sekian banyak tank di situ, delapan diantaranya masih bisa difungsikan setelah diperbaiki oleh montir M. Yusuf Ahmad.


Rencana pergerakan tentara Jepang yang bertolak dari kota Lhokseumawe telah lebih dulu diketahui oleh para pejuang Aceh yang berada di Bireuen, dengan segala persiapan dilakukan termasuk membentuk sebuah pasukan komando yang menghimpun pasukan API(Angkatan Pemuda Indonesia)/TKR(Tentara Keamanan Rakyat) dibawan pimpinan kapten T. Hamzah. Selain itu Pasukan rakyat juga di ikut sertakan, terdiri dari beberapa barisan yakni barisan Juli pimpinan keuchik Ibrahim, barisan Samalanga pimpinan Tgk. Syahbudin, barisan Jeunib pimpinan Peutua Ali, barisan Gurugok pimpinan Tgk. Zamzami, Barisan Peusangan pimpinan T. M. Hasan Alamsyah, barisan Krung Panjoe pimpinan Tgk. Abd. Rahman Meunasah Meucap dan masih banyak barisan lainnya yang ikut mengambil bagian dari misi ini.

https://www.umdah.mudimesra.com/2013/07/semangat-alm-tgk-syiek-kuta-glee.html

Setelah persenjataan dirasa cukup, pasukan API dan Barisan kelaskaran yang telah disiapkan diperintahkan untuk menduduki pos-pos yang telah ditetapkan. Krung Panjoe dipilih sebagai basis penghadangan, karena letaknya yang strategis, terdapat rel kereta api yang akan dilalui oleh serdadu Jepang yang bergerak dari Lhokseumawe dan kata ayah hingga tahun 1987 kereta itu masi tetap aktif, ayah sering menaiki kereta tersebut ketika bepergian dari Matang Glumpang Dua ke Bireuen, apalagi pas lebaran tiba. Selain itu, Krueng Panjoe juga merupakan daerah persawahan di sana terdapat tanggul besar yang digunakan untuk mengairi sawah. Tanggul itu bisa dijadikan sebagai pertahanan bagi para pejuang kala itu.

Krueng Panjoe merupakan sebuah daerah yang berada didekat desa dimana saya tinggal boleh dikata sebagai desa tetangga, sekitar tiga kilometer arah timur Matang Geulumpangdua tentu anda sering mendengarnya, kenapa tidak, karna disitu terkenal dengan wisata kulinernya yakni Sate Matang yang dapat memanjakan setiap lidah yang mencicipinya.

Di masa perjuangan kemerdekaan dikenal sebagai kota santri dengan ribuan santri fanatik. Di daerah tersebut berdiri Madrasah Tsanawiyah yang terkenal maju yakni di kawasan Peusangan. Madrasah itu diasuh oleh ulama besar Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, salah seorang pendiri Persatuan Ulama Aceh (PUSA) bersama ulama besar Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Pergerakan tentara Jepang akan dicegat oleh pejuang Aceh di Krueng Panjoe agar tidak   merembet ke daerah lain. Karna selain kota Bireuen disinyalir Jepang juga akan menduduki kembali tempat-tempat strategis lainnya seperti Teupin Mane, Geulanggang Labu, Tambo, Cot Gapu dan Blang Pulo. Satu batalyon tempur Jepang dari Lhokseumawe yang ingin masuk kembali ke Bireuen itu dihadang di Krueng Panjoe oleh rakyat bersama. Serentak dengan itu dilakukan pula pembongkaran rel kereta api di kampung Pante Gajah lokasi yang juga tepat untuk melakukan penghadangan, sekitar 3 km sebelum masuk stasiun yang berada di Matang Glumpang Dua.

Tepat pukul 12.30 siang kereta api yang naas itu meluncur memasuki area yang telah di tentukan. ketika kereta api terperosok tentara Jepang pun diserang dari berbagai sisi. Para pejuang menghujani kereta api yang ditumpangi oleh serdadu Jepang dengan tembakan yang gencar, sehingga membuat serdadu jepang agak kebingungan.

Sesekali disela-sela ayah sedang bercerita saya memotong keseriusannya dengan mencoba bertanya beberapa hal yang membuat hati ini penasaran,”beuho that lagoe ureung Aceh ayah?”, beliau hanya tersenyum dan melanjutkan kembali ceritanya.

Pertempuran berkobar dari siang sampai malam. Pasukan kita dengan moril yang tersisa tetap mengepung Jepang yang terkurung dalam gerbong-gerbong kereta api. Serdadu Jepang dibuatnya kewalahan oleh para pejuang Aceh. Tengah malam menjelang subuh terlihat kesibukan serdadu jepang keluar dari gerbong  menggali lubang-lubang perlindungan di persawahan.

Sementara itu makanan untuk para pejuang kita berupa nasi bungkus telah disiapkan para ibu dan anak-anak gadis, mereka mengupayakan agar dapat mengambil bagian dari perjuangan besar itu dengan melakukan hal-hal yang semampunya bisa dilakukan.

Besok paginya, 25 November 1945, pasukan Jepang telah berada dalam saluran dan lubang perlindungan yang digalinya. Rakyat Krueng Panjoe bersama Pasukan API/TKR terus menggempur. Bersamaan dengan itu pintu tanggul pun dibuka, air mengalir deras  kesawah. Lubang-lubang yang digali Jepang penuh dengan air. Mereka terendam dalam persembunyiannya. Pertempuran terus berlangsung hingga sore hari.

Akhirnya karna tidak sanggup lagi melawan para pejuang Aceh, pada hari ke tiga, 26 November 1945 pukul 12.50 tentara Jepang  mengibarkan bendera putih di gerbong kereta api. Jepang menyerah. Pimpinan pasukan Jepang Mayor Ibi Hara dan juru bicara Muramoto keluar dari gerbong kereta api dengan bendera putih di tangan. Setelah melakukan perundingan Mayor Ibi Hara tewas. Ia melakukan harakiri (bunuh diri) akibat syok dengan  kekalahan yang dialami pasukannya itu.

Pertempuran Krung Panjoe dinilai oleh kalangan militer sebagai pertempuran yang bersejarah, karena ia telah mampu membangkitkan kepercayaan diri yang besar di kalangan masyarakat untuk mengusir Jepang dari Tanah Air.

Begitulah kisah yang telah diukir oleh para pejuang kita dengan segala upaya dan jerih payahnya dalam mempertahankan Tanah Indatu dari tangan orang asing. Sehingga Aceh kala itu menjadi negeri yang paling ditakuti oleh para penjajah.

Namun tugu yang menjadi lambang keberanian bangsa aceh itu sekarang seperti sebuah benda usang yang diabaikan dan tidak terurus, ketika saya berkunjung kesana baru-baru ini saya melihat banyak rerumputan liar tumbuh disekitaranya, tingginya hampir menutupi separuh tugu tersebut dan pagar besi yang menjadi pembatas tugu itu mulai memudar oleh noda karat kecoklat-coklatan. Sepertinya masyarakat setempat sudah kurang peduli terhadap peninggalan dan bukti-bukti sejarah. Maka itu menjadi tugas kita sebagai generasi bangsa untuk terus menjaga dan menggali sejarah, menjaga sejarah bukan hanya tugas pemerintah  tetapi juga tanggung jawab semua masyarakat, supaya kita tau betapa kuat dan beraninya para nenek moyang kita dalam mempertahankan tanah air tercinta ini sehingga saat ini kita sebagai cucu-cucunya bisa mencicipi dan merasakan buah keberanian mereka.

Rizatul Akmal

No comments

Post a Comment