Hidup terpuji,mati syahid dan masuk surga

No comments


(Nu’man Ibn Basyir)


, tempat kaum muslim bertemu dengan Nabi mereka, tempat beliau menyampaikan ceramah dan mengajar mereka tentang segala hal menyangkut agama dan dunia. Semua berdoa kepada Allah agar pokok pohon Islam menancap kuat dan dalam di tempat persemaian yang baru, Madinah Al Munawwarah.

Suatu hari . . .

Basyir ibn Sa’d tiba di rumah usai menghadiri majelis ilmu yang digelar Rasulullah di masjid. Ia disambut istri tercintanya, Umrah bint Rawahah, dengan luapan bahagia. Sebaris senyum menyinsing di wajah sang istri. Ia lalu mendekat kepada sang suami dengan sesosok bayi yang dilahirkannya tadi pagi. Dialah bayi Anshar pertama yang lahir dalam Islam di Madinah pasca-kedatangan Rasulullah.

Basyir bahagia luar biasa. Dipandanginya si anak yang wajahnya berkilat cahaya. Terlontar dari mulutnya sebaris doa agar kelak ia menjadi pahlawan muslim, berjihad di jalan Allah meninggikan syiar Islam.

Tak lama kemudian, Umrah bint Rawahah menyelimuti si jabang bayi dengan sesobek kain, lalu pergi menemui Nabi. Setelah diberkahi dan disuapi kunyahan, beliau lalu memberinya nama Nu’man. “Ia akan hidup terpuji, mati syahid dan masuk surga,” sabda beliau.

Alangkah bahagia Basyir dan istrinya dengan apa yang dikatakan Nabi menyangkut anak mereka, Nu’man itu. Tak syak lagi, kelak ia akan menyambut kesyahidan sebagai pahlawan yang berjihad di jalan Allah. Sungguh seuatu keagungan yang tak terkira mendapat kesyahidan dan masuk surga!
Hari terus berlalu.  Nu’man terus tumbuh dalam dekapan sang ayah dan pelukan cinta kasih sang ibu.
Tiga tahun lewat sudah usia Nu’man ibn Basyir. Pagi itu, begitu bangun tidur, ia melihat ayahnya, Basyir, mengasah pedang, mengapit taming dan tombak. Rupamya ia tengah menyiapkan diri untuk menghadang pasukan gabungan Quraisy, Ghatafan dan Fazarah serta didukung penuh oleh kelompok Yahudi Quraizhah. Mereka berkomplot untuk membetot dakwah Islam dan meratakan Madinah dengan tanah.

Meski usianya masih sangat belia, tetapi Nu’man sangat berharap bisa ikut serta angkat senjata melawan musuh bersama ayahnya dan segenap kaum muslim.
Selang beberapa hari, ayahnya kembali dengan wajah senyum dan wajah berseri-seri. Kaum muslim berhasil memetik kemenangan, sementara musuh pulang kandang memikul beban kekalahan. Sebuah potret yang merasuk ke liang hati Nu’man dan tidak lekang digerus zaman. Peristiwa ini menjadi amunisi sekaligus pemicu semangat untuk mempersembahkan kemenagan kepada Islam. Hari itu ia tahu, betapa kejadianpada hari itu menjadi pelita yang akan terus menerangi jalan hidupnya ke depan; menjadi pelajaran penting yang ia peroleh di masa kanak-kanaknya di sekolah Rasulullah.

Memasuki usia tujuh tahun, Nu’man lalu dibawa ayahnya menghadap kepada Rasululah untuk berikrar masuk islam, memang, bagi Nu’man Islam bukan lagi sesuatu yang asing, hatinya telah menangkap cahaya kebenaran itu semenjak tumbuh kesadarannya terhadap dunia sekitar. Dan, ini menjadi cikal yang kelak membuahkan hasil dan prestasi gemilang.
Tak ada catatan dalam sejarah Islam bahwa Nu’man ibn Basyir ikut serta dalam kancah perang bersama Rasulullah. Juga dalam berbagai ekspedisi militer yang dikirim beliau ke seluruh kawasan di Jazirah Arab. Usianya belum memungkinkan untuk itu.

kisah sahabat lainnya:
https://umdah.mudimesra.com/2015/10/indahnya-berbagi-kisah-sahabat.html

Ketika Rasulullah wafat, usia Nu’man ibn Basyir baru menginjak sebelas tahun. Tetapi, ia ikut merasakan getaran pilu yang meluruhkan semua orang lantaran kewafatan beliau.
Namun, Nu’man ibn Basyir tahu, bahkan turut terlibat dalam sejumlah peristiwa yang terjadi pada kaum muslim di Madinah pada masa Rasulullah. Semua itu sudah terekan dalam benak Nu’man dan meninggalkan jejak di sepanjang tapak hidupnya. Seolah-olah ia tak lepas dari kejadian-kejadian itu.

Nu’man juga aktif mengikuti pelajaran dan nasihat yang disampaikan Nabi, menyimak sejumlah besar hadis yang bersentuhan dengan prinsip dan kaidah-kaidah syarak. Hadis-hadis yang ia rekam dengan segenap kekuatan akal pikiran dan ketajaman cita rasa.

Hidup terus bergulir. Nu’man ibn Basyir turut terjun ke dalam setiap momen peristiwa yang terjadi pada kaum muslim sejak masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Ia ikut bangga dengan semakin meluasnya wilayah yang tersentuh cahaya Islam, dengan serangkaian penaklukan pasukan muslim di Syiria, Mesir, Irak, Persia, Afrika dan kawasan selatan Eropa. Bahagia ia menyaksikan kaum muslim memetik kemenangan demi kemenangan ata musuh-musuh mereka.

Nu’man ibn Basyir dikenal piawai dalam berorasi dan bersyair. Dialah yang menggubah syair berbunyi:

Kuulurkan harta kepada yang tidak meminta

Kutahu menentang kepada Sang Pemberi itu durhaka



Begitu menemui aku dalam keadaan papa

Tak kan ada lagi kemiskinan di antara kita



Jangan kau anggap Tuhan sekutumu kala kau kaya

Tuhan adalah sekutumu kala kau papa



Bila kerabat yang dijalin dengan rahim menipumu

Dan merasa tak butuh padamu

Maka ia bukanlah kerabatmu



Apakah ia yang telah menyakitimu

Berhak disebut kerabat?

Dan orang yang menepis permusuhan

Yang kau tepis?



Nu’man ibn Basyir juga terkenal dengan kedalaman ilmu dan pemahaman agamanya. Tak heran bila ia ditunjuk Muawwiyah ibn Abi Sufyan menjadi penguasa di Kufah, kemudian gubernur di Hamsh, dan terus berlanjut hingga pemerintahan Yazid ibn Muawwiyah.
Nu’man sangat menyesalkan apa yang dilakukan anak buah Yazid di Karbala terhadap Husain ibn Ali ibn Abi Thalib, cucu Rasulullah, beserta istri dan anak dan keluarganya. Tragedi yang merenggut nyawa Husain tersebut terjadi pada bulan Muharram tahun 61 H.
Sebelumnya, Nu’man sudah berpesan kepada Yazid agar berlaku baik terhadap Husain dan keluarganya, mengingat kedudukannya sebagai cucu Rasulullah. Ia juga mendorong Yazid untuk mengirim Husain sekeluarga ke Madinah Al Munawwarah.
Nu’man ibn Basyir memegang janji dan kesetiannya kepada Dinasti Bani Umayyah hanya sampai periode Yazid. Setelah itu ia berbelok haluan; menolak kekhalifahan Marwan ibn Al Hakam dan membaiat Abdullah ibn Al Zubair sebagai khalifah dan mendoakannya. Sikap dan pernyataan politik Nu’man ini kemudian didukung oleh Dhahhak ibn Qais.
Pertempuran akhirnya tak terelakkan antara kubu Umayyah di bawah pimpinan Abdul Malik ibn Marwan dan kubu Dhahhak ibn Qis sebagai pendukung Abdullah ibn Al Zubair. Kelak pertempuran ini dikenal dengan dengan tragedi “Marj Rahith”.
Pertempuran Marj Rahith berakhir dengan kekalahan kubu Dhahhak-Nu’man dan kemenangan kubu Umayyah. Nu’man berusaha kabur. Ia pergi meninggalkan Hamsh tanpa tujuan yang jelas, tak tahu kemana ia harus bersembunyi. Tiba di sebuah desa bernama Biran, ia kepergok orang-orang Umayyah, lalu ia dibunuh ole Khalid ibn Adi Al Kilabi, seorang warga Hamsh. Kepalanya dipenggal lau dilemparkan ke kamar istrinya, sebelum akhirnya dikirim ke Marwan ibn Al Hakam.

Begitulah akhir hayat Nu’man ibn Basyir. Ia gugur sebagai syahid demi membela kebenaran sebagaimana dituturkan Rasulullah dahulu saat ia dilahirkan .
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Nu’man ibn Basyir , salah satu pemuda jebolan sekolah Rasulullah yang hidup terpuji, gugur sebagai syahid dan dijanjikan masuk surga oleh Nabi.

Muhammad Hadi Subulana

No comments

Post a Comment