Gua Tsur

No comments
gua tsur
[Foto:Internet]

Gua Tsur

umdah.mudimesra.com - Adakah tempat yang lebih mulia dari pada tempat yang pernah dijejaki oleh Rasulullah. Bukan hanya manusia akan mulia sepanjang zaman bila menjadi Nabi kekasihnya, bahkan tempat pun menjadi penuh keberkahan dan histori yang meneduhkan bagi umat islam. Tsur namanya bukanlah tempat yang mewah layaknya gedung-gedung pencakar langit. Tsur hanyalah gua. Rasulullah singgah, berlindung dari kejaran, tidak tanggung tanggung bila ditemukan Quraisy menyembelih Rasul dan kekasihnya Abu Bakar- menjadikan gua mewah, bahkan sangat mewah bagi orang-orang yang beriman.
Wajah Abu Bakar pucat pasi. langkah kaki para Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar kuat, dari celah gua Tsur Abu Bakar bisa melihat para pemburu dia dan kekasihnya.
Setengah bersisik Abu Bakar berkata “ Wahai Rasulullah, jika mereka melihat kaki kita, sungguh mereka akan mendapati kita. Rasulullah memandang sahabatnya penuh makna. detepuk punggung sahabat ini pelan, seraya berkata “ Jangan engkau sangka kita hanya berdua. sungguh kita bertiga. dan yang ketiga itu adalah Dia yang menggenggam kekuasaan. Allah SWT.
Ketenangan menyapa Abu Bakar saat itu. Keimanannya menghilang kan debu ragu. Kematian dirinya bukan apa apa. ia lelaki biasa. namun lelaki tampan yang kini di sampingnya yang paling dikhawatirkan. Entah bagaimana semesra tanpa Rasulullah, Madinah tanpa purnama ? Bagaimana dunia tanpa bendera penyampai wahyu ? sungguh, saat ini Abu Bakar tak gentar dengan dengan silau dan tajamnya pedang Quraisy, bahkan jika pedang itu akan merobek lambung dia rela. dia tak takut bila anak panah harus menghunus di tubuhnya, menghujam setiap jengkal tubuh. ia hanya takut bila mereka membunuh Muhammad SAW.
Dua sahabat surga ini kelelahan. mereka sepakat untuk gantian saling menjaga. Keakraban yang agung itu bukanlah sebuah kebohongan, kepura puraan. abu bakar memandang wajah syahdu di depannya penuh hening. Setiap gusaran di wajah, setiap garis garis tangan dan pori tak luput ia pandangi. Betapa ia mencintai putra Abdullah.
Kelelahan yang dialami setelah perjalanan nan jauh, seketika hilang ditelan kegelapan Tsur. Wajah yang begitu nyata, meluluhkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yaitu Muhammad SAW. Hanya ada satu rasa yaitu, cinta.
Keberuntungan menyapa Abu Bakar. Beberapa saat kemudian Muhammad melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar, hal ini tidak terjadi pada saudaranya yang lain. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudra kebahagiaan. Tak ada yang memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala yang mulia, Nabi yang ummi berbantalkan kedua paha nya. Mata Rasulullah terpejam. Dengan penuh hati hati layaknya seorang ibu, tangan Abu Bakar mengusap peluh dikening Rasulullah. Masih dalam senyap Abu Bakar terus terpesona oleh sosok yang tengah istirahat dalam pangkuannya. sebuah asa mengalun dalam hatinya. “Allah betapa ingin hamba menikmati ini selamanya, syukur ya Rabbi. “
Nafas harum itu terhembus satu-satu , menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat . Abu Bakar tersenyum , sepenuh ia menatap lagi , tak jenuh tak bosan seketika wajahnya muram.  Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu purnama Madinah seperti memburu hewan buruan  bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib yang begitu santun dan amanah ? mendung di wajah Abu Bakar belum juga reda . Sebuah kuntum mawar mekar di kedalaman hatinya begitu semerbak “ selama hayat di berada dalam raga aku , Abu Bakar selalu ada disampingmu , untuk membelamu dan tak akan membiarkan siapapun mengganggumu”
Sunyi . Gua itu begitu dingin dan remang , Abu Bakar menyandarkan punggung di dinding gua . Rasulullah masih saja mengalun dalam istirahatnya . Tiba-tiba seekor ular  mendesis-desis perlahan mendatangi  kaki Abu bakar  yang menjulur, Abu Bakar menatapnya waspada ingin rasanya menarik kakinya untuk menjauhi dari hewan berbisa itu ,namun keinginan itu dienyahkan dari benak , tak ingin dia mengganggu tidur pulas sang purnama madinah bagaimana tega dia membangunkan kekasih allah itu.
Abu Bakar menangis ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya kakinya tetap saja tak digerakkan sedikitpun ,dan kemudian ular itu pergi untuk beberapa saat ,dalam hening ,sekujur tubuhnya terasa panas ,bisa ular segera menyalar cepat , Abu Bakar menangis sedalam-dalamnya, rasa sakit itu tidak dapat ditahan lagI, tanpa terasa air mata tangisannya menetes mengenai pipi rasullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatiran terbukti, Rasulullah bangun dan menatapnya penuh rasa penasaran.
 “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis menyesal karena mengikuti perjalanan ini ? “Suara Rasulullah memenuhi udara gua .
“Tentu saja tidak, wahai Rasulullah, saya ridha dan ikhlas mengikutimu ke manapun “potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.
“lalu mengapa engkau menjatuhkan air mata”
“Seekor ular baru saja menggigitku, wahai putra Abdullah, dan bisanya menyebar begitu cepat”
Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan  tak seberapa lama bibir nya bergerak “mengapa engkau tidak menghindarinya ?”
“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap ”jawab Abu Bakar sendu. Sebenarnya ia kini sangat menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.
Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja selanjutnya mata Al-Mustafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indahnya sebuah ukhwah betapa syahdunya kasih sayang.
“Sungguh bahagia aku memiliki seorang sepertimu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya hanya Allah sebaik-baik pemberi balasan”
Tanpa menunggu waktu dengan penuh kasih sayang Al-Mustafa meraih pergelangan kaki yang digigit ular .Dengan menggunakan nama Allah Nabi mengusap bekasan gigitan ular dengan air liur beliau .Maha suci Allah seketika rasa sakit itu tidak ada lagi . Abu bakar langsung menarik kaki nya karena malu. Nabi masih memandangnya.
“Bagaimana mungkin mereka para kafir tega menyakiti manusia indah sepertimu, bagaimana mungkin?”nyaring hati Abu bakar berkata demikian.
Gua tsur kembali ditelan  senyap kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah terjaga dan Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya.Tak akan rela dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu,subhanallah.
Ketika Rasulullah berada di hadapan,kupandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala tahukah kalian apakah yang terjelma cinta![]Hibbik
Nurfiza Anwar

No comments

Post a Comment