Kekayaan Hakiki

No comments

umdah.mudimesra.com Sejak zaman dahulu bakan tidak akan pernah berhenti sampai kahir zaman, kehidupan manusia tidak terlepas dari perjungan. Seperti dua sendal. . lalu apakah setelah perjuangan dan kaya rasa sudah sampai disitu akhir dari pada kebahagian ? mungkinkah kekayaan adalah defenisi kongkrit kebahagiaan ? apakah yang mereka yang tidur, mandi dengan uang dipastikan bisa tidur nyenyak ?

Saya sangat sepakat dengan “kaya itu relatif “semua kita punya selera masing masing dalam kekayaaan. Tidak sama. Bergantung dengan ritme pikir dan pola hidup masing masing. Orang yang punya pengeluaran yang sedikit dia lebih beruntung karena kekayaan baginyaadalah memenuhi keperluannya yang tidak banyak tadi.

Islam sebagai agama melihat kekayaan dengan cara yang unik. Suatu ketika Nabi SAW dalam sakitnya menuju keabadian bersabda. Bahwa Allah memberinya pilihan tetap hidup dan ber gelimpangan harta dunia atau wafat dan betemu dengan Rabbanya. Lantas Nabi memilih yang kedua.  Islam memandang kekayaan adalah bagaimana wajah hati seseorang. Yang paling milyader adalah yang paling kaya hati.sepeti kata

لَيْسَ الْغَنِىُّ عَنْ كَثْرَةِ الْعَرْضِ، وَلَكِنَّ الْغَنِىَّ غَنِىُّ النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah diukur dengan banyaknya harta. Namun  kekayaan (hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.”

Kekayaan sejati adalah kemampuan bersyukur yang terpatri dalam diri seseorang. Ketengan jiwa dengan apa saja yang telah Allah berikan untuknya. logika orang yang kaya hati bukanlah seperti rumus matematika setiap yang dikelurkan akan berkuarang, namun yang dibagi itulah yang abadi. Harta alah alat perjuangan membantu agama. Tidak ada kata susah lelah mencari apalagi mati matian mencari, sebab mencari sedikit harta tidak boleh menginggalkan ibadah.

Orang yang semakin kaya lahiriyahnya adalah semakin fakir ketika dia pelit, rakus dan fakir. Semakin pelit semakin fakirlah dia. Dia juga bisa tersiksa sebelum siksaany yang sebenrnya ketika mendengki dengan keluasan yang dimiliki orang lain.

Namun demikian agama islam tidak membenarkan sikap mager (malas gerak) penganutnya. Bisnis dalam rangka menfkahi diri dan kelurga adalah bentuk ibadah yang diberikan ganjarang yang besar. Didlam kitab Abi Jamarah nabi bersabda “ bila seorang laki laki menafkahi istilah dengan niat karena Allah maka baginya fahala sedekah ”.
Intinya, Kita harus menguasai harta, bukan harta yang menguasai kita. Hidup memang perlu kepada harta tapi sekedar saja terhadap yang bukan tujuan utama.


Muhammad Khairul

No comments

Post a Comment