Khilaf Ulama Bertambah dan Berkurangnya Iman

No comments


ورجحت زيادة الإيمان                بما تزيد طاعة الإنسان
ونقصه بنقصها وقيل            لا وقيل لا خلف كذا قد نقلا
Umdah.mudimesra.com Allah tidak akan pernah memuji hambanya melebihi batas kemampuannya, begitulah yang tertera di dalam Al quran pada surah Al baqarah.

Semakin besar keimanan seorang hamba terhadap tuhannya maka semakin besar pula ujian yang akan ia hadapi. Sama hal nya sepert yang sedang menjalani proses pendidikan. Semakin lama ia menjalani pendidikan maka ia akan naik kelas ke level yang lebih tinggi. Tentunya saat naik kelas ia akan menghadapi ujian, semakin tinggi kelas yang ia jalani, maka akan semakin sulit pula ujian yang akan ia hadapi. Namun ujian itu akan terasa ringan apabila sejak awal pendidikan ia memiliki keyakinan yang kuat untuk menuju kesuksesan. Begitu pula keimanan, apabila keimanan seorang hamba telah didasari dengan keyakinan yang kuat, maka sebesar apapun ujian yang akan menimpa dirinya ia akan tetap bertahan karena ia tahu bahwa Allah sedang memperhatikannya.

Syeikh Ibrahim Al Laqani mengatakan dalam kitabnya “ Keimanan seorang hamba dapat bertambah dengan sebab ta’atnya hamba terhadap rabbnya” tanda-tanda dari bagusnya kualitas keimanan hamba dapat terindikasi dari aktivitas ibadah kesehariannya. Mayoritas ulama Asy’ariyah berpendapat bahwa keta’atan seorang hamba terhadap tuhannya dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan seorang hamba. Tentunya dalam menjalani keta’atan tersebut penuh tantangan dan rintangan, pada tantangan inilah Allah akan melihat hambanya, bagaimana ratapan hambanya dalam menghadapi tantangan itu apakah ia tetap berada dalam keta’atannya, atau keta’atannya itu hanya bersifat temporal (sementara), jika ia lolos dari tantangannya, maka secara otomatis keimanan akan menaiki derajat yang lebih tinggi.

Dalam bait selanjutnya, Syeikh Ibrahim Al Laqani menambahkan bahwa “berkurangnya iman seorang hamba dengan sebab kurangnya keta’atannya” akan tetapi para ulama berbeda argument dalam menyikapi permasalahan ini.

1.       Pendapat pertama ini merupakan pendapat yang dikemukakan oleh ulama mutaqaddimin, mereka berargumen bahwa  bertambah atau berkurangnya keimanan seorang hamba tergantung dari keta’atannya kepada Allah.

2.       Adapun pendapat yang kedua yaitu pendapat yang dikemukakan oleh Imam Abi Hanifah, beliau mengatakan bahwa keimanan hamba tidak akan berkurang dan bertambah, karena iman itu adalah keyakinan yang telah tetap pada hati individu manusia.

3.       Dan pendapat yang ketiga ini mengatakan bahwa antara pendapat pertama dan kedua itu tidak terjadi kontradiksi sama sekali. Hanyasanya terjadi perbedaan pendapat pertama dengan bertambah kuatlah keimanannya (QS. Al Anfal : 2), dalam ayat di atas jelas mengindikasi bahwasanya seorang mukmin yang sejati akan meningkat kualitas keimanannya dengan sebab mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran, dan akan bergetar hatinya ketika mendengar nama rabb nya.

Adapun hadis tang menjadi hujjah dalam permasalahan ini yaitu sabda Nabi SAW sendiri ketika ditanyai oleh Ibnu Umar, Ibnu Umar berkata: apakah keimanan itu dapat bertambah dan berkurang? Lalu Nabi menjawab: “keimanan akan terus bertambah sehingga membuat pemiliknya masuk ke dalam surga, dan keimanan itu akan berkurang sehingga membuat pemiliknya masuk ke dalam neraka.” Maka lengkaplah dalil-dalil yang mengindikasi tentang berkurang dan bertambahnya keimanan seseorang.

Kesimpulannya para ulama sepakat dengan berpegang bahwa defenifi dari iman adalah hanya semata mata tasdiq (kekaykinan yang telah menetap dalam hati seseorang hamba) baik dia itu dari golongan ahli maksiat atau ibadah. Adapuntentang berkurang iman dilandasi dari amalannya. Sehingga kedua ahli itu berubah kapan saja dia taat dan kaan saja dia maksiat.

Adapun pendapat yang kedua karena lain dalam menilai. Pendapat pertama didasari oleh faidah dari iman, maka berdasarkan hal ini dia berkurang dan bertambah. Adapun pendapat kedua karena menilai dari hakikat iman itu sendiri. Adapun kongklusi dari keduanya sama. Istilah kepada kajdian ini adalah “ Khilaf Lafdii wahidu muradi”


Gusti Wahyudi. Takengon

No comments

Post a Comment