membayar sesal

No comments
      
membayar sesal
[Foto:Internet]

Membayar Sesal
            
  Oleh: Nismul El-fadhil

Semilir hembusan angin pagi menghempas lembut menerpa wajahku,semerbak harumnya bijih padi-padi dara yang akan menguning meresapi hanturan syahdu, lewat jendela kamarku kuhenyakkan pandanganku kejagat raya menyaksikan keindahan alam pagi ciptaan ilahi,,,berlahan matahari mulai merangkak keluar dari peraduan, sinarnya terus menembus awan awan menghaturkan cahaya kededaunan padi yang berembun betapa berkilauan nampaknya, bak biji intan permata yang bertaburan dipinggir pantai…betapa memukaunya ciptaan ilahi desahku dalam hati,aku terpana dibuainya, keindahan pagi tak pernah sekali ku melewatkan saat seperti ini,manakala  saat-saat aku harus bersyukur dengan nikmat yang Allah titipkan berupa penglihatan dan segalanya, bahkan juga nikmat perasaan cinta dalam hati.”fahri shadiq kapan kah kau kembali” 3 tahun sudah ia menempuh dersiran angin yamani timur tengah, maka setelah kepergiannya hanya buaian pagi yang mampu mengisi rindu dihati ini teringat pesannya tempo lalu.

”ukhty jika memang ukhty rindu kepada saya melongoklah keluar jendela diwaktu pagi,saksikanlah keagungan ciptaan ilahi karna saya ini juga ciptaanNya”         
Aku tidak mengerti entah kenapa tiba-tiba aku mulai mengagumi pria itu setelah pertemuan dengannya pertama kali diawal-awal kami masuk kema’had selanjutnya baru bertemu lagi pada saat duka menyelimuti dirumah kami 2 bulan sebelum keberangkatan pria itu, maka selama 2 bulan itu ia dan umminya yang merupakan sahabat ummi, mereka terus menopang semangatku yg mulai goyang dan hampir runtuh sehingga aku mampu bangkit kembali, aku menganggapnya anugrah dari tuhan dan hanturan doa tiada henti mengiri langkahnya semoga Allah kan menyatukan kami didalam ikatan suci

Kuderapkan langkah setapak demi setapak menuju tempat pemberentian terakhir setiap manusia, dengan digemuli perasaan sedih dan kegalauan kuhampiri sebuah gundukan tanah yg ditancapkan dua buah batu nisan dikedua sisi ujungnya, tertera sebuah nama yang sangat aku kenali, sebuah nama yang memenuhi hatiku, sebuah nama yg selalu menemaniku,menyemangatiku,membimbingku, dan membuatku menjadi seperti sekarang ini, sebuah nama yang kupanggil “UMMI”, kududuk disisi kuburnya dengan khidmat, mulutku mulai komat kamit melantunkan istighfar, shalawat dan segala zikir zikir samadiah, tak lupa kulantunkan bacaan yasin,karna bacaan yasin akan menjadi penerang bagi orang-orang dalam kubur lamat lamat ku mulai syahdu dalam alunan syair2 tuhan sampai kepada ayat 62: “Dan sungguh ia(setan) itu telah menyesatkan sebagian besar diantara kamu.
 Maka apakah kamu tidak mengerti? “ seakan tertohok hatiku seolah olah Allah telah menegur dengan menyindirku secara langsung, “yaAllah ampunilah hambamu ini yg terlalu bergemul dalam dosa,lebih-lebih dosa yang timbul dari hatiku lantaran setiap saat mengingat seseorang yang tak halal untukku” butiran bening itu pun mulai merembes dari sudut mataku setelah membaca kelanjutan ayat “Inilah neraka jahannam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu.” Bergetar hatiku meresapinya seakan ayat ini baru pertama kali kubaca, “yaAllah selamatkan kami dan juga ibuku dari api neraka”
“zhalfa… bangun nak”, tok..tok..tok…”bangun fa….” Suara ayah telah membuyarkan mimpiku memaksaku untuk bangkit dari hayalanku, mimpi mimpi yang sangat kunanti-nanti karna didalam mimpi aku dapat memiliki apa saja yang belum dapat kumiliki saat ini, fahri mengajarkanku amalan indah sebelum tidur sebagaimana yang rasul ajarkan kepada istrinya Aisyah,  ”aisyah jangan pernah engkau tidur sebelum melakukan empat hal”, “apakah itu ya Rasulullah..?”, “ pertama mengkhatam Alquran,kedua menjadikan para nabi sebagai pemberi syafaat kepadamu, ketiga meminta keridhaan dari semua kaum muslimin, keempat melaksanakan haji dan umrah,” aisyah terperanjat lantas bertanya, ”bagaimana cara saya melakukannya wahai rasulullah?” rasulullah tersenyum dan menjawab,” membaca surat al ikhlas 3x sama seperti engkau mengkhatamkan Alquran, engkau bershalawat kepadaku dan kepada sekalian para nabi sama halnya engkau telah meminta syafaat kepada mereka,engkau meminta keampunan bagi umat muslim seakan engkau telah beroleh keridhaan mereka, engkau membaca tasbih,tahmid dan takbir seolah-olah engkau telah berhaji dan umrah,” aku merasakan getaran-getaran ilmu agama yang begitu indah merusupi relung hatiku, tak kusangka ajaran ini tak sebatas terpaku kepada baris-baris kitab, bahkan setiap jengkal kehidupan manusia telah diatur dengan tertipnya, hal ini baru kusadari setelah mengenal fahri,
aku memang pernah mengenyam pendidikan agama disebuah pondok pesantren tingkat aliyah/SMA yang sama dengan fahri, lantaran idiologi mondok muncul dari ummi sedangkan aku mengidamkan sekolah farmasi sehingga keterpaksaan ini telah membuatku tidak dapat menyerap ilmu-ilmu yang sangat berharga itu dipondok,hanya segelintir perihal fardhu ‘ain, dan awalnya tidak pernah sedetikpun rasa penyesalan menggerogoti perasaanku sehigga terjadilah peristiwa itu, ummi meninggalkan kami untuk selama-lamanya, aku hanya dapat menatap lesu kepada sosok jasad kaku yang tak lagi bernyawa itu, air mataku terus berlinang merembes dipipiku tidak banyak yang dapat kulakukan, hanya bisa mengiringi mengantarkan jasad yang palng aku cintai itu dengan cucuran air mata sampai pembaringan terakhirnya, bagaikan tertusuk belati karatan perih hati ini karna penyesalan ketersia-siaannya waktu 3 tahun mondok, satu potong bacaan alfatihah saja ku tak tahu cara mengirimkan misil pahalanya, apalagi memandikan lagi mengkafankan, dan disaat itulah ummi fahri dan dia menyiramkan obat penawar kedalam luka hati yang hampir hancur lantaran penyesalan dan kepergian ummi, ummi fahri tak bosan-bosan setiap hari mengajarkanku bagaimana  cara mengirimkan misil fahala bacaan kepada orang-orang yang telah meninggal,


     “fa.. kamu mau lanjutkan kuliyah dimana..? bukannya kamu suka farmasi ya..”kata-kata ini terlontar dari mulut ayah beberapa pekan lalu dan sampai saat ini aku hanya bisa menjawab “maaf yah zhalfa belum bisa memberikan jawaban”, sebenarnya aku sangat tertarik perihal obat-obatan aku selalu berangan-angan suatu saat dapat meracik sejenis obat yang dapat menyembuhkan penyakit ummi, disaat umurku menginjak 9 tahun ummi sering sakit-sakitan kerap ia batuk sampai mengeluarkan darah, pada waktu itu aku tidak tahu ummi sakit apa, tapi disaat remaja aku baru tahu ummi terkena penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobakterium tuberculosis atau biasa dikenal dengan TBC,semenjak itu aku sangat giat mempelajari perihal medis, seperti obat anti biotik sebagai obat penekan perkembangan bakteri ringan dan microorganisme yang berbahaya didalam tubuh tapi ia tidak cukup kuat melawan bakteri sekaliber  mycrobakterium tuberculosis, disisi lain aku tidak ingin menyia-nyiakan ayah,aku tidak ingin memberikan kesan yang sama kepada abi seperti halnya disaat kepergian ummi karna kebodohanku, “aku harus bisa ilmu agama..!” ku membatin.

“yah.. bisa ayah antarkan zhalfa kedayah dalam minggu ini..?” seketika kulihat ruman ayah yang menahan rasa kaget, “kedayah fa?”, ”iya yah kedayah..”, “ tidak salah kamu fa, kamu kan tahu sendiri didayah itu tak ada masa depan mau makan apa kamu nanti setelah ayah meninggal”, ku berusaha menjawab dengan tetap mempertahankan ketenangan meski dari awal aku yakin ayah pasti tidak setuju dengan hal ini, “yah.. Allah yang akan menanggung makan zhalfa, jadi ayah tidak usah risau zhalfa tidak apa-apa”, ku berhenti sejenak sembari menarik nafas lalu menghembuskan berlahan dan lagi-lagi butiran bening itu merembes dipipiku “ayah tahu kenapa ummi memaksa zhalfa sekolah dipondok dulu, karna ummi tahu yah ia hidup tak lama lagi dan ia ingin zhalfa yang mengurusnya disaat ia meninggal, tapi nyatanya apa, zhalfa telah menghianati ummi zhalfa tak dapat melakukan apa-apa disaat ummi meninggal, dan zhalfa tak ingin hal ini kembali ayah yang rasakan nanti”, tak dapat lagi ku tahan perasaanku lalu langsung kurengkuh ayah, “ zhalfa sangat menyayangi ayah!”[]Hibbik.


No comments

Post a Comment