Mustafa

No comments
Santri belajar
[Foto : Internet]

Dia Mustafa. Kelas satu Y dan tamat SD. Suaranya agak serak, perwakannya dewasa dan uniknya bisa bahasa tamiang hulu dan hilir.
Jumat kemarin, usai shalat jumat si Must mondar mandir dibilik. Entah apa yang dicari dan difikirkan.
Terus Mr Acong (salah satu angota bilik) tanya “kok mondar mandir Must ? “
Si Must jawab “ Must rindu mamak, rindu adek jugak ! ”
Dalam keheningan ketika usai Si Must bilang dia rindu mamak saya membatin “ saya kalah dari adik kecil ini, dia hebat sekali. Walaupun Tidak banyak hal yang bisa di banggakan bagi santri yang masih kelas satu. Ilmunya masih sedikit dibanding kami anggota biliknya, iaa cuma Mustafa yang kelas satu disini. Kemampuan membaca kitab kuning masih buta, awamil, hukum isim belum dihapal sempurna. Teman juga belum banyak . dan semua kekurangan yang mustafa miliki hancur dan binasa. Binasa karena dia berhasil rindu mamak.
Sementara aku ??? siapa yang kurindu ?

Ada banyak hal yang tak bisa cukup logika mengukurnya. Saat ini kadang kita punya barisan militer yang kuat, otak yang cerdas dan badan yang sehat tapi bisa saja semua itu tidak bisa di andalkan karena pada dasarnya peneten keberhasilan, kebahagian yang hakiki adalah Dia zat yang maha Kuat. Allah.
Sebaliknya ketika kita miliki sejuta alasan untuk kalah, kelemahan, ketidak berdayaan kita juga tidak boleh bersandar 100 persen dengannya sehingga spirit yang keluar adalah spirit para orang yang kalah. Karena masih ada Allah yang menentukan nasib kita. Inilah konsep raja’.

Diwaktu yang lain. Mustafa sedang lipat baju. 
Nuun :  “Mus kenapa masuk dayah ? “
Dia senyum, sambil sedikit nyengir Mustafa bilang “ mus mau jadi imam mamak ! “
Secara tidak langsung, si mus pesan bahwa belajarlah untuk orang lain. Bukan untuk diri sendiri saja. Sedikit sekali manfaat yang ada, bila belajar cuma untuk melindungi hak hak diri sendiri saja. melindungi makanan dn pakaian. Mengukur mana haram dan haram tanpa mau tau apakah diri kita ini halal dan haram. Belaum katam ta’limul mutaalim tapi dia sudah duluan bagaimana niat seorang penuntut ilmu. Jadi imam mamak adalah bagian dari pada menghidupkan agama.
Beruntung punya Mustafa, andai dia Ikram. Adik saya.

No comments

Post a Comment